BANDAR LAMPUNG — Nama Dr. Budiyono, S.H., M.H. kembali mencuri perhatian di lingkungan Universitas Lampung. Bukan sekadar statusnya sebagai akademisi senior Fakultas Hukum, melainkan perjalanan panjang pengabdian yang membuatnya dipandang sebagai figur potensial memimpin kampus pada 2027-2031.
Pria yang akrab disapa Budiyono ini bukan berasal dari keluarga berada. Ia tumbuh di lingkungan sederhana di Tanjungkarang, dididik kedua orang tuanya, Zaini Muqodam dan Harleni, pensiunan pegawai negeri sipil. Nilai kejujuran, kedisiplinan, dan pengabdian menjadi fondasi hidupnya sejak kecil.
Dari DPM FH Unila hingga HMI: Tempaan Organisasi Membentuk Karakter
Perjalanan intelektual Budiyono dimulai di Fakultas Hukum Unila. Di kampus ini ia tidak hanya menyerap ilmu hukum, tetapi juga belajar kepemimpinan dan demokrasi. Ia aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Hukum Unila, lalu melanjutkan kiprahnya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
“Organisasi mengajarkan bagaimana berpikir untuk kepentingan yang lebih besar, bukan sekadar kepentingan pribadi,” ujar salah satu rekan lamanya, Rabu (20/5/26), mengenang masa aktivisme Budiyono.
Dari organisasi-organisasi itu, cara pandangnya tentang bangsa, keadilan sosial, dan pengabdian semakin terbentuk. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang gemar berdiskusi, terbuka terhadap perbedaan pendapat, dan dekat dengan berbagai kalangan.
Gelar Bukan Tujuan Akhir: Konsistensi Mengajar dan Membimbing
Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum pada 1998, Budiyono melanjutkan studi Magister Hukum (lulus 2004) dan meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran pada 2012. Namun baginya, pendidikan bukan sekadar soal gelar.
Sejak menjadi dosen di FH Unila pada 2004, ia memilih menempatkan diri sebagai pendidik yang dekat dengan mahasiswa. Di ruang kelas, ia dikenal komunikatif dan mendorong mahasiswa berpikir kritis. Ia tidak membangun jarak, sehingga mahasiswa kerap menjadikannya tempat berdiskusi — dari urusan akademik hingga persoalan kehidupan.
Di tengah dinamika kampus, nama Budiyono beberapa kali diperbincangkan dalam konteks pencapaian akademik tertinggi sebagai guru besar. Namun ia memilih meresponsnya dengan tenang. Baginya, kehormatan seorang akademisi tidak semata diukur dari jabatan atau gelar, melainkan dari konsistensi dalam mengajar, meneliti, membimbing, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Keluarga yang Mengabdi: Dari Jaksa hingga Mahasiswa Magister Hukum
Di balik aktivitas akademiknya, Budiyono dikenal sebagai sosok keluarga yang hangat. Bersama istrinya, Titiek Fitriyani yang mengabdi sebagai ASN Pemerintah Provinsi Lampung, ia membangun keluarga dengan nilai pendidikan dan kedisiplinan.
Nilai itu tercermin dalam perjalanan anak-anak mereka. Putra sulungnya, M. Farel Firdiansyah Putra, kini mengabdi sebagai jaksa. Putrinya, Fathiya Firdiansyah Putri, melanjutkan pendidikan Magister Hukum di Universitas Padjadjaran. Sementara putra bungsunya, M. Fadlan Firdiansyah Putra, masih menempuh pendidikan.
Mengapa Dukungan untuk Budiyono Terus Mengalir?
Kombinasi pengalaman sebagai akademisi, tenaga ahli, konsultan hukum, hingga penggerak organisasi strategis membuat Budiyono dipandang memahami banyak sisi tata kelola kelembagaan. Reputasinya sebagai figur yang mengedepankan integritas dan musyawarah pun perlahan terbentuk.
Menanggapi derasnya dukungan untuk maju sebagai Rektor Unila, Budiyono memilih tetap bekerja dan mengabdi tanpa larut dalam polemik. Sikap itulah yang membuat banyak kalangan menilainya sebagai akademisi yang dewasa dan matang secara intelektual.