LAMPUNG — Kenaikan laba BRI sejalan dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 13,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp1.562 triliun. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan kombinasi ekspansi kredit dan pengelolaan biaya dana yang efisien menjadi motor utama peningkatan profitabilitas.
Efisiensi Biaya Dana dan Kualitas Aset Terjaga
Hery menjelaskan, perbaikan struktur pendanaan menjadi faktor krusial. Peningkatan rasio dana murah atau CASA (Current Account Saving Account) berhasil menekan cost of fund. Alhasil, rasio profitabilitas ikut terdongkrak: Return on Assets (ROA) naik ke 2,8 persen, sementara Return on Equity (ROE) meningkat dari 17,1 persen pada kuartal I 2025 menjadi 18,4 persen pada periode yang sama tahun ini.
“Pertumbuhan ini mencerminkan kemampuan BRI dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan biaya dana yang semakin efisien,” ujar Hery dalam paparan kinerja di Kantor Pusat BRI, Kamis, 30 April lalu. Ia menambahkan, perbaikan kualitas aset juga turut menopang laba.
Total aset BRI hingga akhir Maret 2026 tercatat mencapai Rp2.250 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan fundamental bisnis yang solid di tengah kondisi makro yang menantang.
Transformasi Digital dan UMKM Jadi Andalan
Ke depan, BRI akan memperkuat fokus pada digitalisasi layanan dan pengembangan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) secara end-to-end. Langkah ini mencakup akses pembiayaan, pendampingan usaha, hingga integrasi dengan pasar digital.
Program transformasi bernama BRIvolution Reignite menjadi payung strategi tersebut. Hery menegaskan, setiap langkah transformasi diarahkan untuk menciptakan nilai tambah, tidak hanya bagi perusahaan dan pemegang saham, tetapi juga bagi masyarakat luas. “Kami meyakini bahwa pertumbuhan harus berjalan seiring dengan dampak yang nyata,” tutupnya.
Dengan laba Rp15,5 triliun di awal tahun, BRI menunjukkan konsistensi strategi pertumbuhan sehat yang mengedepankan manajemen risiko disiplin. Pencapaian ini sekaligus memperkuat posisi bank pelat merah tersebut sebagai penopang utama sektor UMKM nasional.