JAKARTA — Tekanan di pasar keuangan Indonesia kembali terasa di awal pekan. IHSG dibuka merosot tajam, kehilangan lebih dari 138 poin dan langsung jatuh ke zona merah di level 6.584,762. Angka ini jauh dari posisi penutupan akhir pekan lalu.
Pada sesi preopening sebelumnya, indeks saham utama Tanah Air itu sudah menunjukkan sinyal negatif dengan terkoreksi 94,344 poin (1,40 persen) ke 6.628,976. Artinya, tekanan jual investor sudah terlihat sejak awal.
Rupiah Kian Terpuruk di Level Psikologis
Di pasar valuta asing, rupiah tak kunjung menunjukkan tanda-tanda penguatan. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah terhadap dolar AS pagi ini melemah 33,00 poin atau 0,19 persen ke level Rp 17.630. Level ini merupakan salah satu titik terlemah dalam beberapa waktu terakhir.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah masih kuatnya permintaan dolar AS di pasar domestik. Posisi di atas Rp 17.600 per dolar AS menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal masih membayangi nilai tukar mata uang Garuda.
Bursa Asia Ikut Merah, China Jadi Satu-satunya yang Hijau
Pelemahan IHSG dan rupiah sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga bergerak di zona merah pada perdagangan pagi ini. Indeks Nikkei 225 di Jepang memimpin pelemahan dengan koreksi 625,902 poin (1,02 persen) ke 60.783,398. Disusul Hang Seng di Hong Kong yang turun 274,500 poin (1,06 persen) ke 25.688,230.
Sementara itu, indeks Straits Times di Singapura juga terkoreksi 16,089 poin (0,32 persen) ke 4.972,990. Satu-satunya bursa yang mencatatkan penguatan adalah SSE Composite di China yang naik tipis 2,399 poin (0,06 persen) ke 4.137,790.
Apa Arti Pelemahan Ini bagi Investor Ritel?
Bagi investor ritel di Indonesia, koreksi IHSG di awal pekan ini menjadi sinyal untuk lebih berhati-hati. Pelemahan indeks di atas 2 persen dalam satu sesi pembukaan tergolong cukup dalam dan bisa memicu aksi jual lanjutan jika sentimen negatif masih berlanjut.
Di sisi lain, pelemahan rupiah ke Rp 17.630 per dolar AS juga berdampak langsung pada biaya impor dan harga barang-barang yang bergantung pada bahan baku luar negeri. Investor yang memiliki portofolio di sektor konsumer atau properti perlu mencermati pergerakan kurs ke depan karena bisa menekan margin perusahaan.
Belum ada pernyataan resmi dari Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pergerakan pasar pagi ini. Pelaku pasar masih menunggu data ekonomi global dan kebijakan suku bunga The Fed yang menjadi sentimen utama pelemahan aset berisiko di Asia.