Pemerintah Provinsi Lampung bersama pelaku usaha resmi membuka keran ekspor tepung tapioka ke pasar internasional. Seremonial pelepasan ekspor perdana ini dilakukan oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Bupati Tulang Bawang Barat (Tubaba) Novriwan Jaya di area Pelabuhan Panjang.
Ekspor yang dijalankan oleh CV Central Intan ini menandai babak baru bagi industri pengolahan singkong di Bumi Ruwa Jurai. Sebanyak 3.330 ton tapioka diberangkatkan menuju China, yang selama ini menjadi salah satu pasar potensial bagi produk turunan pertanian asal Indonesia.
Nilai Ekspor Tembus Rp 26 Miliar ke Pasar Global
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyatakan bahwa pengiriman perdana ini membuktikan kualitas produk olahan Lampung mampu bersaing di kancah dunia. Dengan nilai transaksi mencapai Rp 26 miliar, sektor industri berbasis singkong diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi daerah.
“Ekspor ini membuktikan produk Lampung mampu bersaing di pasar dunia, baik dari sisi kualitas maupun harga,” ujar Rahmat Mirzani Djausal di sela-sela kegiatan pelepasan ekspor tersebut.
Keberhasilan menembus pasar China ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Pelindo, Badan Karantina Indonesia, dan sinergi antar-pemerintah daerah. CEO Intan Group, Jeremi Gozal, turut mendampingi gubernur dalam prosesi pemecahan kendi sebagai simbol dimulainya pengiriman logistik internasional tersebut.
Pasokan Singkong dari Petani Tubaba dan Wilayah Sentra
Bupati Tubaba Novriwan Jaya yang hadir dalam acara tersebut menegaskan peran vital petani di daerahnya dalam rantai pasok ekspor ini. Bahan baku tepung tapioka yang diekspor berasal dari sejumlah kabupaten kunci, yakni Tulang Bawang Barat, Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Barat, dan Tulang Bawang.
Kehadiran industri pengolahan yang berorientasi ekspor diharapkan mampu menjaga stabilitas harga singkong di tingkat petani. Selama ini, fluktuasi harga seringkali menjadi kendala utama bagi para produsen singkong di Lampung.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, di antaranya Kapolda Lampung Helfi Assegaf, Plt Deputi Karantina Tumbuhan Drama Panca Putra, serta Ketua DPRD Tubaba Busroni. Ketua Harian HKTI Umar Ahmad juga tampak hadir memberikan dukungan terhadap penguatan sektor pertanian Lampung.
Fokus Produksi Lokal dan Komitmen Stop Impor
Selain memperluas pasar, Pemerintah Provinsi Lampung kini mulai berfokus pada perbaikan hulu industri. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah pengembangan bibit unggul singkong untuk meningkatkan kadar pati dan produktivitas lahan per hektare.
Gubernur menegaskan bahwa kebijakan pemerintah saat ini adalah memprioritaskan hasil bumi sendiri. Ia menjamin tidak akan ada lagi ruang bagi masuknya singkong impor ke wilayah Lampung guna melindungi kepentingan petani lokal.
“Impor itu cerita lama. Sekarang kita fokus memperkuat produksi dalam negeri,” tegas Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
Melalui peningkatan kualitas dan akses pasar yang lebih luas, perputaran ekonomi di tingkat pelaku usaha hingga petani diharapkan terus membaik. Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau produktivitas tapioka agar daya saing Lampung di pasar global tetap terjaga secara berkelanjutan.