LAMPUNG — Wawancara dengan Ophir Samson, Head of Voice AI Greenhouse, mengungkap batas tegas penggunaan AI dalam melamar kerja: boleh untuk riset dan merapikan CV, tapi tidak untuk berbicara mewakili pelamar. Temuan ini relevan bagi pencari kerja Indonesia yang makin sering memakai chatbot untuk menyusun lamaran, di tengah laporan bahwa 93% pelamar tidak pernah sampai ke tahap wawancara.
Ophir Samson memaparkan panduan itu berdasarkan laporan Future of Hiring Candidate Report dari Greenhouse, perusahaan penyedia platform rekrutmen asal Amerika Serikat. Salah satu temuan yang paling mencolok: 6 dari 10 pencari kerja mengaku mengubah cara menulis CV dan surat lamaran agar tidak terkesan hasil AI, padahal sebagian besar dari mereka tetap memakai AI dalam proses mencari kerja.
Angka lain dari laporan yang sama menunjukkan skala masalahnya. Sebanyak 81% kandidat di AS ditolak dalam setahun terakhir tanpa pernah berbicara dengan siapa pun di perusahaan, dan 96% berharap bisa menunjukkan kemampuan yang tidak tertangkap oleh formulir lamaran.
Yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan dengan AI
Samson menyamakan penggunaan AI yang tepat dengan persiapan menghadiri rapat penting. Menurutnya, AI paling berguna untuk memetakan apa yang sedang dibangun perusahaan, arah tim, dan kebutuhan nyata dari posisi yang dilamar.
Dari situ, pelamar bisa menyusun pertanyaan sendiri untuk pewawancara. "Wawancara yang baik berjalan dua arah, dan kandidat seharusnya juga mewawancarai perusahaan," kata Samson.
AI juga boleh dipakai untuk mempertajam CV, dengan syarat semua isinya benar-benar mencerminkan pengalaman pelamar. Yang tidak boleh: membacakan jawaban AI secara langsung di depan perekrut.
"Beberapa hal hanya bisa kamu lakukan sendiri. Cara berpikir kandidat adalah hal paling berharga yang bisa mereka bawa," ujarnya.
Begitu AI yang berbicara mewakili pelamar, entah lewat lamaran otomatis ke ratusan lowongan atau jawaban yang disuapkan saat wawancara, pelamar kehilangan pembeda utama dirinya.
Jebakan Melamar Massal dan Lingkaran Kegagalan
Kesalahan paling sering yang dilihat Samson adalah memperlakukan pencarian kerja sebagai permainan volume. Pelamar yang baik bersaing dengan ratusan lamaran lain untuk satu posisi, dan melamar massal justru memperburuk keadaan.
Kandidat memakai AI untuk menembus bot penyaring, perekrut memakai AI untuk menyaring banjir lamaran, dan yang pertama mati adalah sinyal. Tidak ada yang bisa membedakan siapa yang serius dan siapa yang sekadar ikut ramai.
Sarannya lugas: lamar lebih sedikit posisi, tapi beri usaha sungguhan pada yang benar-benar diinginkan. Jika perusahaan menawarkan percakapan, termasuk lewat AI, ambil kesempatan itu.
"Kamu tahu siapa yang tidak meluangkan 15 atau 20 menit itu? Bot-bot yang jadi pesaingmu," kata Samson.
Paradoks: Memakai AI tapi Menyembunyikannya
Samson mengakui ada semacam paradoks di era sekarang. Semua kandidat punya akses ke alat yang sama, sehingga kalau ratusan pelamar memakai AI untuk menulis CV, tidak ada yang menonjol.
Data Greenhouse mendukung gambaran itu: 77% pencari kerja di AS memakai AI dalam setahun terakhir, namun 60% mengubah atau mempertimbangkan mengubah gaya menulis agar lamarannya tidak dikira buatan AI.
Masalah sesungguhnya, menurut Samson, bukan pada pelamar yang menyembunyikan alatnya. Akarnya ada di CV sebagai sinyal rekrutmen yang memang paling lemah sejak awal.
"CV selalu menjadi sinyal terlemah dalam perekrutan, dan hari ini ia menghadiahi trik kata kunci, akal-akalan format, dan makin sering, konten tulisan AI," ujarnya.
Wawancara AI dan Tiga Pengaman yang Wajib Ada
Jalan keluar yang ditawarkan bukan menambah hambatan melamar, melainkan memberi pelamar ruang produktif untuk menunjukkan cara berpikir. Salah satunya lewat percakapan AI transparan sebagai penyaring awal.
Angkanya cukup meyakinkan. Kandidat yang menyelesaikan wawancara Voice AI tercatat tiga kali lebih mungkin mencapai putaran final. Sebanyak 9 dari 10 kandidat di AS terbuka pada wawancara AI, dan hanya 7% yang menolak mentah-mentah.
"Kandidat tidak anti-AI. Mereka anti-AI yang buruk," kata Samson.
Dari sisi penilaian, wawancara AI meminta kandidat bernalar secara lisan, menjelaskan pekerjaan mereka alih-alih membiarkan perekrut menebak dari poin-poin CV. Hampir separuh kandidat AS pernah mengikuti wawancara AI dalam setahun terakhir, dan 70% di antaranya menilai format itu mampu menunjukkan kemampuan mereka dengan baik.
Samson menetapkan tiga pengaman yang menurutnya tidak bisa ditawar. Pertama, keterbukaan: kandidat harus tahu mereka sedang berbicara dengan AI dan apa yang dinilai. Sebanyak 88% kandidat menginginkan setidaknya satu kewajiban hukum agar perusahaan terbuka soal penggunaan AI dalam wawancara, dengan pemberitahuan awal sebagai prioritas utama (55%).
Kedua, akuntabilitas manusia untuk setiap keputusan. Ketiga, struktur yang bisa diverifikasi: pertanyaan dan rubrik sama untuk semua kandidat, penilaian hanya berdasarkan isi jawaban, bukan aksen atau kefasihan bicara, dengan audit bias pihak ketiga secara berkala.
"AI membuka pintu, tapi ia tidak memutuskan siapa yang boleh masuk," tegas Samson.
Yang Perlu Diperhatikan
- Seluruh data dalam laporan berasal dari pasar Amerika Serikat, sehingga tingkat adopsi AI di kalangan pencari kerja Indonesia bisa berbeda.
- Wawancara berbasis Voice AI belum menjadi praktik umum di proses rekrutmen perusahaan Indonesia, jadi relevansinya masih terbatas untuk pelamar ke perusahaan multinasional.
- Klaim bahwa kandidat yang menyelesaikan wawancara Voice AI tiga kali lebih mungkin lolos ke putaran final berasal dari data internal Greenhouse, bukan studi independen.
- Panduan ini tidak membahas regulasi ketenagakerjaan atau aturan perlindungan data yang berlaku spesifik di Indonesia.
Proyeksi Lima Tahun ke Depan
Samson memperkirakan CV tidak lagi menjadi pintu depan perekrutan dalam lima tahun. Percakapan akan datang lebih dulu, terbuka bagi siapa pun yang melamar, dalam bahasa apa pun, dan berjalan dua arah.
Manusia tetap mengambil setiap keputusan akhir. Namun menurutnya, struktur itu memberi kandidat serius alasan dan tempat untuk tampil, alih-alih hilang di antara ratusan lamaran yang tidak pernah dibaca.