Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat 13 kali erupsi Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, sepanjang Rabu. Kolom abu terpantau menyembur setinggi 50 hingga 300 meter dari puncak, dengan status gunung masih bertahan di Level III Siaga.
LAMPUNG SELATAN — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali meningkat sepanjang Rabu. Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, merekam 13 kali gempa letusan atau erupsi sejak pukul 12.00 WIB hingga 18.00 WIB.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan erupsi yang terjadi masih bersifat fluktuatif. Kondisi ini membuat potensi terjadinya letusan susulan masih terbuka lebar.
"Sejak siang hingga sore hari terhitung sebanyak 13 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 47-56 mm, dan lama gempa 20-173 detik," ujarnya Rabu.
Amplitudo Tremor Menerus Capai 60 Milimeter
Getaran akibat erupsi tersebut terekam dalam Tremor Menerus dengan amplitudo yang bervariasi antara 4 hingga 60 milimeter. Data ini menjadi dasar bagi petugas untuk terus melakukan pemantauan visual dan instrumental secara intensif.
Peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi sejak awal Juli menjadi pemicu Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga. Meski begitu, aktivitas gunung api ini dinilai masih dalam kategori yang bisa dipantau dengan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG.
Radius Aman 2 Kilometer dari Kawah
Suwarno menegaskan larangan bagi masyarakat, wisatawan, maupun nelayan untuk beraktivitas dalam radius yang telah direkomendasikan. Langkah ini untuk menghindari risiko yang bisa ditimbulkan akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik.
"Gunung Anak Krakatau masih dalam status Level III, atau Siaga, nelayan dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati dalam radius dua kilometer dari kawah," ucapnya.
Nelayan Selat Sunda Diminta Pantau Cuaca Sebelum Melaut
Para nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diimbau untuk terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi cuaca sebelum berangkat melaut. Hal ini penting mengingat kondisi perairan bisa berubah sewaktu-waktu menyusul aktivitas vulkanik yang masih tinggi.
Warga diminta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Seluruh informasi resmi mengenai perkembangan gunung api hanya dikeluarkan oleh lembaga berwenang, dalam hal ini PVMBG dan Badan Geologi.