BANDAR LAMPUNG — Sebanyak 20.354 anak di Lampung tercatat tidak melanjutkan pendidikan pada tahun ajaran 2024/2025. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung menunjukkan angka itu terdiri dari 5.081 siswa SD, 10.531 siswa SMP, dan 4.742 siswa SMA.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan pemerintah daerah saat ini tengah mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan ribuan siswa berhenti sekolah. Penelusuran dilakukan secara mendalam agar langkah penanganan bisa tepat sasaran.
Angka Putus Sekolah Terbanyak di Jenjang SMP
Jenjang pendidikan menengah pertama mencatat jumlah putus sekolah tertinggi, mencapai lebih dari separuh total keseluruhan. Disdikbud Lampung mencatat angka ini tersebar di berbagai kabupaten dan kota di provinsi tersebut.
Menurut Mirza, angka 20.354 siswa yang putus sekolah menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa setiap anak yang meninggalkan bangku pendidikan adalah potensi yang hilang bagi masa depan Lampung.
Pemetaan Penyebab dan Deteksi Dini di Sekolah
Pemerintah telah mengambil langkah pencegahan pada tahun ajaran 2025/2026. Upaya tersebut meliputi penguatan pengawasan, pembinaan sekolah, dan pendampingan terhadap siswa yang berisiko putus sekolah.
"Ada 20.354 anak yang putus sekolah di Lampung. Saat ini kami sedang menelusuri dan mengidentifikasi apa saja penyebabnya agar dapat ditangani secara tepat," kata Mirza, Kamis (4/6/2026).
Gubernur menekankan pentingnya peran kepala sekolah dan guru dalam membangun iklim pendidikan yang positif. Sekolah diminta lebih aktif melakukan deteksi dini terhadap siswa yang berpotensi keluar.
"Anak-anak ini dititipkan orang tua kepada sekolah untuk dididik. Ketika mereka keluar sekolah atau mengalami masalah yang menyebabkan putus sekolah, tentu itu menjadi perhatian serius bagi kita semua," ujarnya.
Intervensi untuk Siswa Rentan Putus Sekolah
Selain menelusuri akar persoalan, Pemprov Lampung menyiapkan berbagai langkah intervensi untuk membantu siswa yang rentan putus sekolah. Program tersebut diharapkan mampu menekan angka putus sekolah sekaligus memastikan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan terpenuhi.
"Pendidikan adalah investasi masa depan. Karena itu, kami berkomitmen memastikan setiap anak di Lampung memiliki kesempatan yang sama untuk menyelesaikan pendidikannya," tegas Mirza.
Pemerintah daerah belum merinci bentuk intervensi yang akan dijalankan. Namun, Mirza memastikan langkah penanganan akan disesuaikan dengan hasil pemetaan penyebab putus sekolah di masing-masing wilayah.