JAKARTA — Pergerakan rupiah pada awal perdagangan hari ini menunjukkan sentimen positif di tengah gejolak pasar keuangan global. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda naik 0,26 persen dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.840 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di level Rp17.839 per dolar AS, juga menguat dibandingkan pembukaan perdagangan kemarin yang berada di posisi Rp17.851 per dolar AS.
Bank Indonesia Tahan Suku Bunga di Tengah Gejolak Global
Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen menjadi salah satu faktor utama yang menopang stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah ini dinilai konsisten dalam menjaga stabilitas rupiah dari dampak tingginya gejolak global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah.
Analis pasar mata uang Ibrahim Assuaibi menilai, kebijakan suku bunga tersebut menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa otoritas moneter berkomitmen menjaga stabilitas. "Keputusan suku bunga ini tetap konsisten dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah," ujarnya.
Selat Hormuz dan Sinyal The Fed Bayangi Pergerakan Rupiah
Dari sisi eksternal, ketidakpastian global masih membayangi pergerakan rupiah. Para investor tengah mencermati sinyal yang saling bertentangan dari Teheran dan Washington mengenai status Selat Hormuz bagi pelayaran kapal. Situasi ini berpotensi memicu gejolak harga energi dan mempengaruhi sentimen pasar secara luas.
Selain itu, pelaku pasar juga mengamati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Risalah rapat Federal Reserve bulan Juli memberikan petunjuk mengenai penilaian para pembuat kebijakan terhadap inflasi serta langkah yang tepat terkait suku bunga. Hal ini menjadi perhatian utama karena dapat mempengaruhi pergerakan dolar AS secara global.
Proyeksi Pergerakan: Fluktuatif dengan Potensi Pelemahan
Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Kamis ini akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan ditutup melemah. Mata uang Garuda diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang hari, seiring dengan belum redanya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian arah suku bunga global. Pasar akan terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah serta data ekonomi AS yang dapat mempengaruhi kebijakan The Fed ke depan.