LAMPUNG — Tekanan terhadap rupiah berlanjut di awal pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,21 persen pada pukul 09.00 WIB, seiring dengan pelemahan won Korea Selatan yang turun 0,71 persen dan baht Thailand yang melemah 0,17 persen. Dolar Amerika Serikat justru menguat di hadapan hampir seluruh mata uang dunia.
Dua Sumber Tekanan: Perang Dagang dan Kebutuhan Valas Musiman
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah saat ini berada dalam fase konsolidasi. "Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat tekanan tambahan berasal dari faktor domestik. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, kebutuhan dolar AS meningkat secara musiman untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen. Hal ini terjadi di tengah terbatasnya arus masuk valas ke dalam negeri.
Harga Minyak Turun, Ada Harapan bagi Rupiah
Lukman menambahkan, satu-satunya katalis positif yang bisa menahan pelemahan lebih dalam adalah harga minyak mentah yang sudah menurun. Sebagai negara importir minyak, penurunan harga komoditas ini berpotensi mengurangi beban impor migas Indonesia. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada hari ini.
Namun, proyeksi tersebut sedikit lebih optimistis dibandingkan posisi aktual rupiah yang sudah menyentuh Rp17.844. Artinya, tekanan jual dolar AS masih cukup dominan di pasar.
BI Siap Intervensi, tapi Efektivitasnya Diuji
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," kata Ramdan. Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk operasi moneter dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Namun, efektivitas intervensi ini akan diuji pada pekan ini. Pelaku pasar menanti rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia pada Selasa (2/6) yang bisa menjadi penentu arah rupiah selanjutnya. Jika inflasi tetap terkendali dan surplus perdagangan terjaga, tekanan terhadap rupiah bisa mereda.
Apa Dampak bagi Investor dan Pelaku Bisnis?
Bagi importir, pelemahan rupiah berarti biaya bahan baku dan barang modal menjadi lebih mahal. Sementara bagi eksportir, kurs yang lemah justru menguntungkan karena penerimaan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi dalam rupiah. Investor di pasar saham perlu mencermati pergerakan rupiah karena pelemahan berkelanjutan kerap memicu aksi jual asing di pasar modal.
Investasi mengandung risiko.