BANDARLAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menekankan bahwa pembangunan daerah tidak bisa hanya bertumpu pada angka pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang tinggi. Ia menilai pengalaman berbagai daerah membuktikan bahwa laju ekonomi yang pesat belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan warga.
“PDRB yang tinggi belum tentu bisa memakmurkan masyarakat. Kekayaan suatu daerah belum tentu mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa adanya SDM yang unggul,” tegas Gubernur Mirza di hadapan para rektor dan pimpinan perguruan tinggi swasta dari berbagai daerah di Indonesia.
Kesenjangan Nilai Tambah Komoditas Jadi Pekerjaan Rumah
Lampung memiliki kekuatan besar di sektor pangan dan pertanian, mulai dari padi, jagung, singkong, kopi, hingga kakao. Namun, potensi tersebut masih menghadapi persoalan klasik: rendahnya nilai tambah karena sebagian besar komoditas keluar daerah dalam bentuk bahan mentah.
Kondisi itu diperparah dengan kenyataan bahwa kesuburan tanah tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas SDM setempat. Karena itu, Gubernur Mirza menegaskan pentingnya menghubungkan kekayaan sumber daya alam dengan kapasitas sumber daya manusia melalui peran aktif kampus.
Kampus Tak Cukup Hanya Menghasilkan Ijazah
Gubernur Mirza menyoroti kesenjangan antara jumlah lulusan sekolah menengah dengan ketersediaan lapangan kerja. Menurutnya, desain pendidikan harus lebih adaptif terhadap kebutuhan industri dan perkembangan ekonomi, bukan sekadar mengejar gelar akademik.
“Universitas harus beradaptasi dengan industri yang akan hadir di Provinsi Lampung. Kita harus menyiapkan SDM untuk bersaing, bukan hanya untuk mencari pekerjaan,” ujarnya.
Ia menilai perguruan tinggi dituntut melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi, keterampilan, kreativitas, serta kemampuan menciptakan peluang usaha sendiri.
Hilirisasi di Desa Jadi Kunci Perubahan Struktur Ekonomi
Pemerintah Provinsi Lampung tengah mendorong perubahan struktur ekonomi agar lebih inklusif, terutama melalui penguatan hilirisasi komoditas dan penciptaan lapangan kerja di tingkat desa. Gubernur Mirza mencontohkan jagung yang tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi bisa dikembangkan menjadi pakan ternak hingga produk turunan lainnya.
“Kenapa hilirisasi belum maksimal dilakukan di desa? Salah satunya karena kita kekurangan SDM yang memiliki kemampuan untuk mengolahnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, model pembangunan yang diinginkan tidak hanya mengandalkan investasi besar, tetapi juga memperkuat industri skala kecil berbasis teknologi dan potensi lokal.
Teknologi Tepat Guna untuk Menggerakkan Ekonomi Desa
Salah satu gagasan yang tengah didorong adalah pengembangan teknologi sederhana namun tepat guna di desa. Gubernur Mirza mencontohkan pembangunan mesin pengering yang dapat digunakan untuk berbagai komoditas pertanian sebelum dipasarkan.
“Kalau kita membangun ratusan unit pengering di desa, dampaknya bukan hanya terhadap pengolahan komoditas, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi desa,” katanya.
Menurutnya, teknologi yang diterapkan tidak harus selalu berasal dari luar negeri, melainkan disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan lokal. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya menyiapkan generasi muda Lampung yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja di tengah era transformasi ekonomi.