LAMPUNG — Sejak debutnya pada 2010, Neymar Jr. tidak pernah benar-benar menjadi dirinya sendiri. Ia diproyeksikan sebagai "Messi-nya Brasil" — sebuah label yang melekat erat dan membentuk budaya ketergantungan yang merugikan semua pihak. Jonathan Wilson, dalam analisisnya, menyebut Neymar sebagai "seorang calon hebat yang tak pernah diizinkan menjadi dirinya sendiri."
Pada Piala Dunia 2018, setelah Brasil tersingkir oleh Belgia di perempat final, Neymar berdiri sendirian di parkir stadion Kazan. Pundaknya tertunduk, tubuhnya membungkuk menahan beban ekspektasi. Saat itu usianya baru 26 tahun, namun banyak yang merasa kesempatan terbaiknya untuk menjuarai Piala Dunia telah sirna.
Kekalahan 1-2 dari Belgia bukan sekadar hasil buruk. Itu adalah bukti nyata bagaimana mengakomodasi Neymar justru menciptakan celah fatal. Pelatih Belgia, Roberto Martínez, mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Brasil yang rapuh dengan memindahkan Romelu Lukaku ke sayap kanan.
Setiap kali Belgia merebut bola, mereka langsung menyerang titik lemah itu. Brasil tidak memiliki gelandang pekerja seperti Rodrigo De Paul milik Argentina, dan ketidakseimbangan itu berbuah petaka. Neymar bukan satu-satunya penyebab kekalahan, tetapi kehadirannya memaksa kompensasi taktis yang tidak selalu berhasil.
Masalah Neymar sebenarnya sudah terlihat sejak Copa América 2011. Setelah membawa Santos juara Copa Libertadores, ia tiba di Argentina dengan gelombang hype yang luar biasa. Namun semuanya runtuh saat berhadapan dengan bek Venezuela, Roberto Rosales, yang tanpa kompromi menghadangnya.
Dua pertemuan dengan Darío Verón dari Paraguay kemudian menegaskan satu hal: Neymar sangat tidak suka saat lawan mengalahkannya secara fisik. Akibatnya, ia mulai mengantisipasi kontak, melebih-lebihkan jatuhan, dan melakukan diving. Sepanjang dekade 2010-an, aksi bully terhadap Neymar dan penghindarannya yang berlebihan menjadi "perlombaan senjata" paling menjengkelkan di sepak bola.
Puncaknya terjadi pada perempat final Piala Dunia 2014. Brasil menang atas Kolombia, tetapi Neymar mengalami patah tulang belakang setelah lutut Juan Camilo Zúñiga mengenai punggungnya. Meski tantangan itu lebih cenderung ceroboh daripada jahat, Zúñiga menjadi sasaran kebencian massal di media sosial.
Suasana di Rio de Janeiro keesokan paginya hening, seperti setelah bencana nasional. Tanpa Neymar, Brasil kehilangan arah. David Luiz mengibarkan jersey kosong Neymar saat lagu kebangsaan, histeria massal pun melanda, dan Jerman dengan kejam mencetak tujuh gol. Sebuah negara telah kehilangan akal sehatnya, membangun Neymar menjadi pemain yang sebenarnya bukan ia.
Keputusan Ancelotti memanggil Neymar kini dianggap sebagai langkah nekat untuk meniru narasi Messi di Piala Dunia 2022. Messi saat itu berusia 35 tahun; Neymar kini 34 tahun. Namun tidak banyak kesamaan lain di antara keduanya. Yang tersisa hanyalah pertanyaan: akankah sejarah kembali berulang, atau kali ini Brasil belajar dari masa lalu?