JAKARTA — Rupiah dibuka di level terendahnya dalam beberapa pekan terakhir pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan data pasar Investing.com pukul 09.11 WIB, Jumat (15/5/2026), mata uang Garuda diperdagangkan di posisi Rp17.609 per dolar AS atau melemah 111,5 poin (0,64 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS di pasar global. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat naik 0,26 persen ke posisi 98,987, menandakan mata uang Negeri Paman Sam tengah perkasa terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Para pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) akhir tahun ini. Ekspektasi itu muncul setelah data inflasi dan penjualan ritel AS terbaru dirilis. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya berdampak positif bagi dolar karena menarik aliran modal.
Selain itu, kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok juga menjadi perhatian. Pelaku pasar berharap ada terobosan dalam isu perdagangan, kecerdasan buatan, hingga ketegangan geopolitik terkait Iran.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pihaknya tidak tinggal diam. Kemenkeu akan mengaktifkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga agar imbal hasil (yield) obligasi tidak melonjak terlalu tinggi seiring pelemahan rupiah.
"Gunakan Bond Stabilization Fund kan, tapi belum fund semuanya kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini. Besok mulai jalan," ucap Purbaya dalam pernyataannya.
Meskipun rupiah terdepresiasi signifikan, Menkeu meyakini keuangan negara tetap aman. Pemerintah telah menghitung simulasi efek kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah ke dalam postur APBN hingga akhir tahun.
Namun, Purbaya menegaskan solusi penanganan utama nilai tukar tetap diserahkan kepada Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter. Kemenkeu hanya akan membantu secara bertahap melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN). Intervensi di pasar obligasi ini telah dimulai sejak 13 Mei 2026.