Pencarian

Dino Patti Djalal Bantah Isu Singapura Sabotase Pasar Modal RI

Kamis, 22 Oktober 2026 • 10:50:32 WIB
Dino Patti Djalal Bantah Isu Singapura Sabotase Pasar Modal RI
Dino Patti Djalal membantah tuduhan konspirasi Singapura untuk menjatuhkan pasar modal Indonesia melalui tekanan terhadap MSCI.

LAMPUNG — Mantan Menteri Luar Negeri era SBY, Dino Patti Djalal, menolak tegas tuduhan bahwa Singapura berkonspirasi menjatuhkan pasar modal Indonesia melalui tekanan terhadap MSCI. Ia menilai narasi sabotase itu tidak masuk akal dan bertentangan dengan rekam jejak kerja sama kedua negara yang sudah teruji puluhan tahun.

Dino menyampaikan bantahan melalui unggahan di akun Instagram @dinopattidjalal, Kamis (22/10). Pernyataan itu merespons tudingan eks Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang menuding Singapura memanfaatkan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menekan pasar saham Indonesia.

Singapura Dinilai punya Kepentingan pada Stabilitas RI

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu menegaskan, dalam kalkulasi politik kedua negara, tindakan sabotase tidak punya tempat sama sekali. Menurut Dino, Singapura justru akan menjadi salah satu negara paling terdampak bila terjadi guncangan politik dan ekonomi di Indonesia.

"Hukumnya tabu dan haram bagi elit politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia. Sebagaimana juga tabu dan haram bagi Indonesia untuk mencelakai Singapura," tegas Dino.

Ia menilai tuduhan konspirasi sangat jauh dari realitas hubungan diplomatik. Dino merujuk rekam jejak Singapura yang terbukti hadir membantu Indonesia di berbagai masa krusial, mulai dari bencana tsunami Aceh, krisis moneter, pandemi COVID-19, hingga kolaborasi investasi di kawasan industri Batam-Bintan dan Kendal.

"Itu adalah pandangan tidak masuk akal dan jauh dari realita yang sebenarnya. Mengapa? karena Singapura merupakan negara tetangga yang memiliki goodwill, trust dan track record kerjasama yang sudah lama teruji oleh Indonesia," ungkapnya.

Pepatah Sejuta Kawan dan Peringatan soal Sikap Curiga

Dino mengingatkan kebijakan Singapura selama ini diarahkan untuk menjaga kerja sama dan saling percaya, bukan aksi sabotase. Ia menyinggung pepatah "Sejuta kawan terlalu sedikit, satu lawan musuh terlalu banyak" yang menurutnya berlawanan dengan situasi saat ini.

"Akan sangat kontradiktif kalau kita memperlakukan tetangga terdekat Singapura seperti lawan dan dengan penuh curiga," jelas Dino.

Ia juga menyoroti persoalan kabut asap sebagai tolak ukur diplomasi. Menurut Dino, kemampuan Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menangani krisis kebakaran hutan akan menentukan posisi Indonesia sebagai pemimpin natural di Asia Tenggara.

"Bagaimana Indonesia bisa bertetangga terus dalam keadaan sulit, dan bagaimana sebagai negara yang dianggap pemimpin natural di kawasan Asia Tenggara ini dengan cara semakin mengukuhkan kebesaran Indonesia, bukan kekerdilan," tegasnya.

Tsunami Aceh Jadi Contoh Diplomasi yang Berhasil

Dino merujuk bencana tsunami Aceh dan Nias pada 2004 sebagai pelajaran. Saat itu, cara Indonesia menangani krisis alam terbesar dalam sejarahnya membuat negara tetangga dan bangsa lain kompak membantu di bawah komando Indonesia.

Krisis tsunami berhasil ditangani dengan baik. Dampak ikutannya, kepercayaan dunia terhadap Indonesia meningkat.

Bantahan Dino muncul setelah Muhammad Lutfi, yang menjabat Mendag pada era SBY (14 Februari–20 Oktober 2014) dan era Jokowi (23 Desember 2020–15 Juni 2022), menuding Singapura lewat Temasek dan GIC menekan MSCI. Lutfi menduga tekanan itu bertujuan menjatuhkan harga saham RI agar investor asing bisa memborong di harga murah.

"Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia?" kata Lutfi dalam unggahan reels di akun Instagram @m.lutfi, Senin (19/10).

Lutfi bahkan mengaku mendapat informasi bahwa seorang petinggi GIC bernama Rachel Goh ikut menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi dari GIC, Temasek, maupun MSCI atas tudingan tersebut.

Follow lampungonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks