LAMPUNG TIMUR — Kunjungan tersebut juga dihadiri jajaran Polda Lampung dan Bupati Lampung Timur. Proyek ini menjadi langkah strategis untuk mencegah gajah keluar dari habitatnya dan berinteraksi dengan permukiman warga yang selama ini kerap memicu konflik.
Pembangunan pagar besi difokuskan di sejumlah titik rawan lintasan gajah di kawasan konservasi tersebut. Pagar ini diharapkan menjadi pembatas permanen yang memisahkan wilayah satwa dengan area aktivitas manusia.
Pagar Besi Jadi Pengaman Utama
Pangdam XXI/Radin Inten menjelaskan, pagar besi yang tengah dibangun merupakan infrastruktur kunci dalam upaya mitigasi. Ia memastikan pemasangan berjalan sesuai target dan akan segera difungsikan sepenuhnya.
“Memang untuk memitigasi konflik antara manusia dengan gajah. Kita lihat di sepanjang ini ada pagar-pagar besi yang sudah dibuat,” jelas Pangdam saat meninjau lokasi.
Pendekatan Non-Fisik: Serai dan Lebah
Mitigasi konflik tidak berhenti pada pembatas fisik semata. Pendekatan berbasis lingkungan turut dikembangkan, salah satunya dengan menanam tanaman yang tidak disukai gajah di sepanjang area rawan.
“Serai dan lebah ini tidak disukai gajah sehingga turut menjaga supaya gajah tidak keluar. Hasilnya juga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar, seperti madu dan serai,” ujar Pangdam.
Langkah ini memberi manfaat ganda, baik untuk pengamanan kawasan maupun peningkatan ekonomi warga melalui budidaya hasil hutan non-kayu.
Way Kambas Menuju Ekowisata Internasional
Di luar fungsi perlindungan, Way Kambas terus diarahkan menjadi pusat ekowisata bertaraf internasional. Penguatan fasilitas konservasi, perawatan gajah, serta peningkatan kapasitas mahout atau pawang gajah menjadi prioritas.
Rencana studi banding ke Thailand juga disiapkan untuk mengadopsi metode pengelolaan dan perawatan gajah yang lebih optimal. Hal ini sejalan dengan upaya menjadikan kawasan ini sebagai ikon wisata alam unggulan Lampung.
Kesiapsiagaan Karhutla di Kawasan Konservasi
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menambahkan, pengawasan kawasan juga diperkuat untuk menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan. Personel gabungan dari TNI dan Polri disiagakan di titik-titik rawan.
“Teman-teman dari Kodam, teman-teman dari kepolisian masih standby di sini. Ada yang melakukan sosialisasi, ada juga yang monitoring,” ujar Gubernur.
Selain pemantauan lapangan, teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan turut disiapkan sebagai langkah antisipasi dini. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai penting menjaga Way Kambas sebagai habitat satwa liar sekaligus kawasan yang aman bagi masyarakat sekitar.