LAMPUNG — Gunungan gabah terhampar di atas terpal plastik yang memantulkan cahaya keemasan. Pemandangan itu bukan pemandangan langka akhir-akhir ini di sejumlah sentra produksi padi. Gabah yang baru saja dipanen itu langsung diserap oleh Bulog, membuat stok beras pemerintah terus bertambah.
Lonjakan serapan ini terjadi di tengah masa panen raya yang bertepatan dengan musim kemarau basah. Cuaca yang mendukung membuat produktivitas sawah meningkat, dan Bulog bergerak cepat memastikan hasil panen petani tidak jatuh ke tengkulak dengan harga murah.
Gudang Penuh, Stok Aman
Kepala Bulog setempat mengungkapkan bahwa volume gabah yang masuk dalam beberapa pekan terakhir melampaui target. Alhasil, sejumlah gudang penyimpanan di wilayah tersebut kini nyaris tidak memiliki ruang kosong.
Kondisi ini merupakan kebalikan dari situasi beberapa tahun lalu ketika Bulog justru kesulitan menyerap gabah karena harga pembelian pemerintah kalah bersaing dengan pedagang swasta. Kini, dengan harga pembelian yang kompetitif, para petani memilih menjual langsung ke Bulog.
Stok yang berlimpah ini menjadi bantalan penting bagi pemerintah. Jika nanti terjadi gejolak harga beras di pasar, Bulog bisa langsung menggelontorkan stoknya untuk operasi pasar.
Petani Menjadi Pihak yang Diuntungkan
Di Desa Srengseng, Kecamatan Kaliwungu, para petani mengaku senang dengan kebijakan ini. Mereka tidak perlu lagi khawatir hasil panennya tidak laku atau harganya anjlok. Gabah kering panen yang mereka jual langsung diterima dengan harga yang memenuhi standar pemerintah.
Dana yang digelontorkan Bulog untuk pembelian gabah petani di wilayah ini mencapai puluhan miliar rupiah. Angka tersebut menunjukkan betapa besar perputaran uang yang masuk ke kantong petani selama musim panen kali ini.
Dengan pendapatan yang lebih pasti, petani bisa bernapas lega. Sebagian dari mereka bahkan sudah berencana menambah luas lahan garapan pada musim tanam berikutnya.
Kebijakan Harga yang Menjadi Kunci
Keberhasilan Bulog menyerap gabah dalam jumlah besar tidak lepas dari kebijakan harga pembelian yang ditetapkan pemerintah. Harga yang menarik membuat petani tidak ragu menjual hasil panennya ke Bulog dibandingkan ke tengkulak.
Skema ini sekaligus memotong rantai distribusi yang selama ini kerap merugikan petani. Dengan menjual langsung ke Bulog, petani mendapatkan harga yang lebih adil dan pembayaran yang lebih cepat.
Ke depan, Bulog diharapkan bisa menjaga ritme serapan ini agar stok tetap terjaga hingga musim paceklik tiba. Jika konsisten, Indonesia tidak perlu khawatir menghadapi gejolak pangan dalam beberapa bulan ke depan.