TULANG BAWANG — Kegelisahan menyelimuti hamparan tambak udang Dipasena, Tulang Bawang. Di tengah biaya produksi yang terus menguras modal, para petambak kini dihadapkan pada ancaman baru: masuknya udang konsumsi dari luar negeri yang berpotensi mengacaukan pasar domestik.
Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya 219 ton udang impor telah masuk ke Indonesia sepanjang Mei-Juni 2026. Rinciannya, 99 ton berasal dari Argentina dan 120 ton dari Ekuador. Jenis udang dari Ekuador merupakan vannamei, komoditas yang juga menjadi andalan budidaya petambak Lampung.
Posisi Tawar Petambak Semakin Lemah
Ketua DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Arie Suharso, yang juga merupakan petambak di Dipasena, menyoroti ironi di balik angka tersebut. Ia mempertanyakan logika kebijakan impor di saat petambak lokal tengah berjuang memasarkan hasil panennya.
"Kenapa impor bisa masuk? Padahal petambak kita memproduksi jenis udang yang sama dan sedang berjuang mendapatkan pasar serta harga yang layak," kata Arie, Jumat (14/8/2026).
Menurut Arie, persoalan ini bukan sekadar soal ada atau tidaknya produk impor di pasaran. Ada siklus panjang yang dipertaruhkan setiap kali petambak menebar benur. Udang yang telah mencapai ukuran panen tidak bisa disimpan lama untuk menunggu harga membaik.
"Kalau pada saat yang sama pasar dibanjiri produk impor, posisi tawar petambak semakin lemah dan yang menanggung kerugian adalah petambak," ujarnya.
Modal, Pekerja, dan Masa Depan yang Dipertaruhkan
Di balik ratusan ton udang impor itu, ada kehidupan petambak yang dipertaruhkan. Modal yang harus kembali, pekerja yang harus dibayar, serta keluarga yang menggantungkan penghasilan dari tambak menjadi taruhan utama. Siklus produksi tidak bisa dihentikan hanya karena harga sedang tidak bersahabat.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat nilai ekspor udang Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$1,87 miliar. Udang merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan nasional dengan pasar ekspor yang besar.
Namun, di sisi lain, masuknya udang konsumsi dari negara lain justru menambah tekanan terhadap pasar dalam negeri. Arie meminta pemerintah benar-benar mempertimbangkan kondisi petambak lokal sebelum membuka ruang impor.
"Jangan sampai setelah petambak berproduksi, pasar dalam negeri justru diacak-acak produk udang dari negara lain," tegasnya.
Bagi petambak Dipasena, yang mereka minta bukan sekadar harga tinggi, melainkan kesempatan untuk tetap hidup dari tambak yang selama ini mereka rawat dengan susah payah.