LAMPUNG — MIROS merilis temuan yang mengaitkan gaya mengemudi dengan pengeluaran harian. Direktur Jenderal MIROS, Siti Zaharah Ishak, mengungkapkan bahwa efisiensi berkendara—atau yang kerap disebut eco-driving—tidak hanya menekan konsumsi BBM, tetapi juga meningkatkan keselamatan di jalan. Simulasi mereka menggunakan asumsi konsumsi bahan bakar 6,6 liter per 100 km, angka yang umum untuk sedan kompak atau kendaraan penumpang ringan seperti Proton Saga.
Hemat BBM hingga RM105 untuk Pengguna Bensin Subsidi
Bagi pengemudi yang masih menikmati bensin RON 95 bersubsidi seharga RM1,99 per liter, potensi penghematannya lebih rendah tapi tetap signifikan. Menurut Siti Zaharah, penghematan bulanan berkisar antara RM13 hingga RM105. “Estimasi ini berdasarkan asumsi konsumsi bahan bakar 6,6 liter per 100 km, yang tipikal untuk kendaraan penumpang ringan atau sedan kompak bensin,” jelasnya seperti dikutip New Straits Times.
Kebiasaan Agresif Bisa Boroskan BBM 40 Persen di Lalu Lintas Padat
Studi dari Departemen Energi Amerika Serikat (DOE) yang dirujuk MIROS menunjukkan dampak drastis perilaku di belakang kemudi. Akselerasi cepat, pengereman mendadak, dan perubahan kecepatan yang konstan terbukti menurunkan efisiensi bahan bakar hingga 15–30 persen di jalan tol. Lebih parah lagi, di lalu lintas stop-and-go, angka pemborosan bisa melonjak hingga 10–40 persen.
Siti Zaharah menambahkan bahwa menurunkan kecepatan saja sudah memberi efek nyata. “Menurunkan kecepatan sebesar 8 hingga 16 km per jam dapat menghemat bahan bakar 7 hingga 14 persen. Tentu ini tergantung pada tipe kendaraan, kecepatan awal, kondisi jalan, dan pola mengemudi masing-masing individu,” ujarnya.
Eco-driving Tidak Hanya untuk Mobil Bensin, Juga untuk EV
MIROS menegaskan bahwa prinsip eco-driving berlaku lintas jenis kendaraan. Siti Zaharah mengatakan temuan Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) menunjukkan bahwa perilaku mengemudi dan konsistensi kecepatan juga memengaruhi daya tahan baterai mobil listrik. Meski EV tidak menggunakan bahan bakar fosil, efisiensi energi tetap terkait langsung dengan jarak tempuh dan frekuensi pengisian daya.
Lebih dari sekadar penghematan, eco-driving membawa manfaat keselamatan. “Kecepatan yang lebih rendah memberi pengemudi waktu lebih banyak untuk bereaksi dalam situasi darurat dan mengurangi tingkat keparahan cedera jika terjadi kecelakaan. Ini bukan hanya soal irit BBM, tetapi juga menciptakan budaya berkendara yang lebih aman dan bertanggung jawab,” pungkas Siti Zaharah.