Tasya Farasya Tak Ingin Mantan Suami Jadi Narapidana Demi Anak

Penulis: Hendra Mukhtar  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:23:01 WIB
Tasya Farasya memilih tidak menempuh jalur pidana terhadap mantan suaminya dengan mempertimbangkan kondisi kedua anak mereka.

LAMPUNG — Tasya Farasya memilih tidak membawa mantan suaminya, Ahmad Assegaf, ke ranah pidana meski polemik dana puluhan miliar rupiah belum tuntas. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan perasaan kedua anak mereka, Maryam (6 tahun) dan Hasan (3 tahun). Berikut alasan lengkap dan konteks yang perlu ibu pahami soal dampak konflik orang tua pada anak.

Unggahan Tasya Farasya di Threads menyita perhatian warganet karena mengungkap sisi lain dari konflik rumah tangganya. Ia menyatakan tidak ingin menjadikan Ahmad Assegaf sebagai narapidana, meski persoalan dana yang menurutnya belum dikembalikan masih bergulir.

Alasan yang ia kemukakan bukan soal materi, melainkan soal dua anak yang masih kecil. Maryam lahir Juni 2020 dan kini berusia 6 tahun, sementara Hasan lahir November 2022 dan akan genap 4 tahun pada November mendatang.

Alasan Tasya Farasya Tidak Ingin Mantan Suami Dipenjara

Melalui unggahan di Threads, Tasya menyampaikan bahwa keberadaan anak-anak menjadi pertimbangan utamanya. Ia memilih menahan diri dari langkah hukum pidana karena memikirkan bagaimana dampaknya terhadap Maryam dan Hasan.

Pernyataan itu muncul di tengah polemik dana puluhan miliar rupiah yang menurut Tasya belum dikembalikan oleh mantan suaminya. Artinya, keputusan ini bukan karena persoalan selesai, tapi karena ada prioritas lain yang ia dahulukan.

Dampak Konflik Orang Tua pada Anak Usia 3-6 Tahun

Maryam dan Hasan berada di rentang usia yang paling rentan terhadap gejolak emosi orang tua. Anak usia 3-6 tahun belum mampu memahami konflik dewasa, tapi mereka sangat peka terhadap perubahan suasana di rumah.

Yang paling terasa biasanya bukan pertengkaran itu sendiri, melainkan ketegangan yang tidak diucapkan. Anak bisa jadi lebih rewel, sulit tidur, atau menarik diri tanpa bisa menjelaskan alasannya.

Karena itu, banyak psikolog anak menyarankan agar orang tua membatasi paparan konflik pada anak sekecil mungkin. Keputusan Tasya untuk tidak menempuh jalur pidana bisa dibaca sebagai upaya menjaga stabilitas emosi kedua anaknya.

Cara Menjelaskan Konflik Keluarga pada Anak Tanpa Menjelekkan Pasangan

Kalau ibu berada di situasi serupa, ada beberapa hal yang bisa dijaga. Pertama, hindari menjadikan anak sebagai pendengar cerita konflik atau tempat melampiaskan kekesalan pada pasangan.

Kedua, jelaskan perubahan situasi dengan bahasa sederhana sesuai usia anak. Untuk anak 3-4 tahun, cukup katakan bahwa ayah dan ibu sedang mengurus sesuatu, tanpa detail yang membingungkan.

Ketiga, jaga rutinitas anak tetap stabil. Jam makan, tidur, dan bermain yang konsisten memberi rasa aman yang tidak bisa digantikan kata-kata.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional

Perhatikan tanda-tanda yang perlu diwaspadai: anak mendadak sulit makan, sering terbangun malam, agresif, atau regresi seperti mengompol kembali setelah lama kering. Perubahan perilaku yang berlangsung lebih dari dua minggu sebaiknya dikonsultasikan ke psikolog anak.

Ibu juga perlu menjaga kondisi mentalnya sendiri. Anak menyerap emosi orang terdekat, jadi mencari dukungan dari keluarga atau konselor bukan tanda lemah.

Kisah Tasya Farasya mengingatkan satu hal sederhana: keputusan besar dalam konflik rumah tangga sebaiknya selalu melewati satu pertanyaan, apa dampaknya bagi anak. Bukan berarti mengorbankan hak sendiri, tapi memilih cara yang paling tidak melukai mereka yang belum bisa memilih.

Reporter: Hendra Mukhtar
Sumber: popmama.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top