LAMPUNG — Antusiasme mahasiswa terhadap penguasaan teknologi digital terbaru terlihat dari padatnya peserta Web3 University Tour 2026 yang digelar di Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Dari total 450 pendaftar, sebanyak 315 mahasiswa hadir mengikuti seluruh rangkaian acara yang berlangsung dari pagi hingga sore hari.
Lampung menjadi kota ketiga dalam rangkaian tur ini setelah Yogyakarta dan Bandung. Ke depan, program serupa akan berlanjut ke Bali, Surabaya, Malang, Samarinda, dan Manado.
Head of Community Coinvestasi, Niki Sekar Dewayani, menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa menghadapi perubahan industri yang berlangsung sangat cepat. "Literasi digital saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Semakin cepat mahasiswa memahami perkembangan teknologi, semakin besar peluang mereka untuk beradaptasi dan berkontribusi dalam ekonomi digital yang terus berkembang," ujar Niki dalam keterangannya.
Menurut dia, generasi muda perlu melihat perkembangan teknologi sebagai peluang membangun kompetensi, bukan sekadar tren sesaat. Hal ini sejalan dengan transformasi digital di berbagai sektor yang mendorong kebutuhan sumber daya manusia dengan keterampilan teknologi tinggi.
Dalam sesi workshop interaktif, peserta tidak hanya mendapat pemaparan materi, tetapi juga praktik langsung. Mahasiswa mempelajari cara kerja smart contract, penggunaan dompet digital (wallet), hingga pengenalan ekosistem decentralized finance (DeFi).
Workshop dipandu oleh dua pengembang dari DevWeb3 Jogja, yakni Yeheskiel Yunus Tame dan Singgih Brilian Tara. Keduanya memiliki rekam jejak di kancah internasional. Yeheskiel tercatat sebagai juara pertama Mantle Global Hackathon 2025 kategori GameFi dan juara pertama Synthesis Agentic AI Hackathon. Sementara Singgih merupakan juara Pharos Hackathon dan U2U Hackathon.
Menjelang akhir kegiatan, para peserta mempresentasikan ide dan inovasi teknologi mereka melalui sesi Cumlaude Web3. Zhico Apta Pradita berhasil meraih juara pertama dengan gagasan NexusVault. Posisi kedua diraih Stevanus Cahya Anggara melalui konsep DePIN Air Bersih, sedangkan Rizal Kurnia menempati posisi ketiga dengan proyek Secure Agreement Hub (SAH).
Pemenang pertama dari setiap kota akan mengikuti Final Cumlaude Web3 tingkat nasional. Mereka juga berkesempatan bergabung dalam program Binance Academy Student Ambassador yang menyediakan akses mentoring, jejaring profesional, dan pengembangan komunitas teknologi di tingkat regional.
Perwakilan Binance Academy, Serli Roisca, mengingatkan bahwa perubahan lanskap industri digital global menuntut tenaga kerja dengan kemampuan teknis yang memadai. "Industri digital berkembang sangat cepat dan membuka banyak peluang baru. Karena itu, mahasiswa perlu mulai mengembangkan kemampuan teknis dan membangun portofolio sejak dini agar memiliki nilai tambah ketika memasuki dunia profesional," kata Serli.
Melalui rangkaian kegiatan ini, penyelenggara berharap semakin banyak mahasiswa di daerah, termasuk Lampung, yang memiliki akses terhadap edukasi teknologi dan mampu mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan ekonomi digital yang terus berkembang.