BANDARLAMPUNG — Tujuh komoditas pangan strategis di Provinsi Lampung mencatatkan kenaikan harga dalam sepekan terakhir. Cabai merah keriting memimpin lonjakan hingga 44,18 persen. Kenaikan ini mendorong Pemprov Lampung mengaktifkan pengawasan ketat di lapangan untuk mengantisipasi inflasi daerah yang tidak terkendali menjelang Hari Raya Idul Adha.
Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, menyatakan koordinasi lintas instansi telah diperkuat untuk memitigasi gejolak harga. "TPID Provinsi Lampung dan kabupaten serta kota bersama organisasi perangkat daerah terkait terus berkolaborasi melakukan pengawasan di lapangan," ujarnya di Bandarlampung, Selasa (26/5).
Tujuh Komoditas Alami Kenaikan, Cabai Merah Keriting Tertinggi
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per Selasa (26/5), kenaikan harga terjadi pada tujuh dari belasan komoditas yang dipantau. Cabai merah besar naik 27,5 persen menjadi Rp76.500 per kilogram. Cabai merah keriting melesat 44,18 persen ke angka Rp70.650 per kilogram. Cabai rawit hijau juga naik 11,2 persen menjadi Rp68.000 per kilogram.
Selain cabai, bawang merah ukuran sedang naik 7,93 persen menjadi Rp49.650 per kilogram. Bawang putih ukuran sedang naik 1,22 persen menjadi Rp33.150 per kilogram. Daging ayam ras segar naik Rp1.750 menjadi Rp36.250 per kilogram. Daging sapi kualitas I naik Rp7.500 menjadi Rp143.750 per kilogram.
Fakta Singkat: Perubahan Harga Pangan di Lampung
- Cabai merah keriting: naik 44,18% (Rp21.650/kg) menjadi Rp70.650/kg
- Cabai merah besar: naik 27,5% (Rp16.500/kg) menjadi Rp76.500/kg
- Cabai rawit hijau: naik 11,2% (Rp6.850/kg) menjadi Rp68.000/kg
- Bawang merah: naik 7,93% (Rp3.650/kg) menjadi Rp49.650/kg
- Daging sapi kualitas I: naik Rp7.500/kg menjadi Rp143.750/kg
- Beras kualitas bawah I: stabil di Rp14.500/kg
- Gula pasir: turun Rp50 menjadi Rp18.600/kg
Penyebab Kenaikan: Permintaan Tinggi dan Gangguan Produksi
Marindo menjelaskan kenaikan harga dipicu dua faktor utama. Pertama, peningkatan permintaan pasar menjelang Idul Adha yang mendorong konsumsi masyarakat. Kedua, gangguan produksi akibat bencana alam seperti banjir dan fenomena El Nino yang masih mempengaruhi hasil panen di beberapa sentra produksi Lampung.
"Dalam pelaksanaan pengawasan, berbagai permasalahan akan dianalisa. Sebab biasanya ketersediaan berkurang karena kebutuhan pasar meningkat, terlebih menjelang Idul Adha. Namun ada juga kasus khusus di mana produksi komoditas terganggu akibat bencana banjir atau El Nino," kata Marindo.
Langkah Pemprov: Data Harian dan Intervensi Kebijakan
Pemprov Lampung melalui TPID kini memantau pasokan dan harga pangan di berbagai pasar tradisional secara harian. Data rigid yang terkumpul menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan intervensi. Langkah ini termasuk memastikan stok bahan pokok seperti padi, gabah, dan jagung tetap tersedia bagi konsumsi masyarakat.
"Berbagai kendala serta permasalahan akan diinventarisir oleh pemerintah daerah agar segera dilakukan intervensi melalui kebijakan, sehingga bahan pangan pokok tetap tersedia bagi konsumsi masyarakat," tambah Marindo. Langkah ini diharapkan mampu menahan laju inflasi daerah tetap dalam rentang yang ditentukan pemerintah pusat.