Pencarian

Bukan Mars, Venus Justru Dilirik untuk Misi Manusia: Ini Alasan Habitat Terapung Lebih Masuk Akal

Rabu, 26 Agustus 2026 • 10:21:31 WIB
Bukan Mars, Venus Justru Dilirik untuk Misi Manusia: Ini Alasan Habitat Terapung Lebih Masuk Akal
Ilustrasi konsep habitat terapung di atmosfer Venus yang digagas sebagai alternatif misi manusia ke luar angkasa.

LAMPUNG — Wacana kolonisasi luar angkasa selama ini identik dengan Mars. Namun, Dr Alfredo Carpineti yang berlatar belakang astrofisika menilai Venus layak dipertimbangkan sebagai alternatif serius, bukan sekadar pelengkap. Gagasan utamanya bukan mendarat di permukaan, melainkan membangun struktur melayang di lapisan atmosfer yang kondisinya jauh lebih bersahabat.

Mengapa Atmosfer Venus Lebih Bersahabat daripada Permukaannya?

Permukaan Venus memang mengerikan. Suhunya mencapai 465 derajat Celsius dengan tekanan atmosfer ekstrem dan awan yang mengandung asam sulfat korosif. Namun, pada ketinggian 50-60 kilometer, kondisinya berubah drastis.

Di lapisan tersebut, suhu dan tekanan atmosfer berada di kisaran yang lebih mendekati kondisi Bumi. Atmosfer Venus yang didominasi karbon dioksida bahkan bisa memberikan perlindungan dari radiasi luar angkasa. Konsekuensinya, habitat yang dibangun harus berupa struktur tertutup dengan atmosfer buatan yang bisa dihuni manusia.

Gas di dalam habitat yang lebih ringan dari atmosfer Venus secara prinsip mampu memberikan daya apung, membuat struktur tersebut bisa "terbang" secara permanen. Konsep kota terapung ini sebenarnya sudah lama dikaji dalam berbagai studi eksplorasi antariksa.

Jarak dan Gravitasi: Keunggulan Venus atas Mars

Dari segi logistik, Venus punya keunggulan signifikan. Pada konfigurasi terdekat, jaraknya hanya sekitar 38 juta kilometer dari Bumi, sementara Mars sekitar 56 juta kilometer. Jendela peluncuran ke Venus juga muncul setiap 19 bulan, lebih sering dibanding Mars yang 26 bulan.

Beberapa wahana robotik sudah membuktikan efisiensi rute ini. Venera 1 tiba di Venus dalam 97 hari, sedangkan Venus Express milik ESA butuh 153 hari untuk mencapai orbit. Meski jalur penerbangan dan desain misi tetap menentukan durasi aktual, jarak yang lebih dekat jelas menguntungkan.

Faktor lain yang jarang disorot adalah gravitasi. Mars hanya punya sekitar 38 persen gravitasi Bumi, yang berisiko memicu masalah kesehatan bagi astronaut dalam jangka panjang. Venus, dengan gravitasi sekitar 90 persen gravitasi Bumi, secara teori jauh lebih dekat dengan kondisi yang dialami manusia di planet asal.

Tantangan Ekstrem: Angin Kencang dan Awan Asam Sulfat

Bukan berarti Venus jadi tujuan yang mudah. Pada ketinggian yang dianggap "bersahabat" itu, kecepatan angin bisa mencapai 210-370 kilometer per jam. Awan asam sulfat yang sangat korosif juga memaksa material habitat dirancang khusus agar tahan terhadap lingkungan kimia ekstrem.

Selain itu, ada persoalan logistik besar: bagaimana manusia memperoleh makanan, air, energi, dan kebutuhan hidup lain selama berada jauh dari Bumi. Semua ini belum memiliki jawaban pasti.

Teknologi untuk Venus Bisa Menjawab Masalah di Bumi

Carpineti mengakui tantangan tersebut. Namun, ia menilai teknologi yang dikembangkan untuk mengatasinya punya potensi manfaat langsung di Bumi. "Kita perlu mencari solusinya sekarang dan di sini, di Bumi," tulisnya.

Inovasi seperti struktur tahan badai atau sistem produksi pangan dengan sumber daya terbatas bisa menjadi solusi untuk krisis iklim dan ketahanan pangan. Dengan kata lain, riset untuk Venus bukan sekadar ambisi antariksa, tapi juga investasi untuk keberlanjutan hidup di planet sendiri.

Sampai saat ini, belum ada konsensus ilmiah bahwa Venus lebih layak daripada Mars. Mars tetap menjadi target utama eksplorasi berawak karena permukaannya yang relatif mudah diakses dan teknologi pendukungnya terus berkembang. Namun, gagasan Venus menawarkan perspektif berbeda: manusia tidak harus "menaklukkan" permukaan yang mematikan, cukup tinggal puluhan kilometer di atasnya dan hidup di lapisan atmosfer yang jauh lebih ramah.

Follow lampungonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks