Pencarian

Pemerintah Klaim Surplus Beras 3,67 Juta Ton, Ekspor ke Malaysia Dimulai 1.000 Ton

Senin, 17 Agustus 2026 • 18:56:31 WIB
Pemerintah Klaim Surplus Beras 3,67 Juta Ton, Ekspor ke Malaysia Dimulai 1.000 Ton
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah mulai mengekspor 1.000 ton beras ke Malaysia pada Senin (17/8/2026).

LAMPUNG — Kementerian Pertanian memproyeksikan produksi beras nasional mencapai 34,77 juta ton pada 2026, sementara kebutuhan domestik diperkirakan 31,10 juta ton. Angka ini menjadi dasar klaim pemerintah bahwa Indonesia kembali surplus beras setelah sebelumnya sempat tertekan oleh fenomena El Nino dan gangguan rantai pasok global.

Dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Jakarta, Senin (17/8/2026), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut pemerintah mulai mengirim 1.000 ton beras ke Malaysia. Peluang pasar disebut dapat berkembang hingga 200.000 ton bahkan 1 juta ton.

Daging Sapi, Susu, dan Kedelai: PR Swasembada yang Belum Tuntas

Amran menegaskan dari 11 komoditas pangan strategis yang dipantau pemerintah, tiga di antaranya masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ketiganya memiliki rantai produksi yang jauh lebih kompleks dibanding beras.

“Dari 11 komoditas, masih ada tiga yang harus kita kejar, yaitu daging sapi, susu dan kedelai. Kami yakin kalau kita kolaborasi dan kompak, pasti ini bisa kita capai,” kata Amran dalam keterangan tertulisnya.

Karakteristik produksi ketiga komoditas ini berbeda dengan padi. Daging sapi dan susu membutuhkan populasi ternak yang memadai, ketersediaan pakan berkualitas, serta investasi jangka panjang di sektor peternakan. Adapun kedelai bergantung pada luas tanam dan produktivitas lahan yang selama ini kalah bersaing dengan komoditas lain yang lebih menguntungkan secara ekonomi.

Stok Cadangan 5,25 Juta Ton dan Data FAO yang Perlu Dicermati

Kementan mencatat stok cadangan beras pemerintah hingga Agustus 2026 mencapai 5,25 juta ton. Pemerintah menyebut angka ini sebagai bantalan yang cukup untuk menghadapi gejolak harga maupun darurat pangan.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang dikutip Kementan menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen beras terbesar dunia. Namun, prospek produksi padi tetap dipengaruhi oleh kondisi cuaca, luas tanam, produktivitas, dan kebijakan input pertanian—termasuk subsidi pupuk yang menjadi instrumen utama pemerintah menekan biaya produksi.

Harga Beras Premium di Penggilingan Naik 1,01%, Surplus Tak Otomatis Tekan Harga

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga beras kualitas premium di tingkat penggilingan pada Juni 2026 mencapai Rp14.815 per kilogram, naik 1,01% dibanding bulan sebelumnya. Harga beras medium berada di level Rp13.525 per kilogram atau naik 0,92%.

Data ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi nasional tidak serta-merta menurunkan harga di seluruh mata rantai distribusi. Biaya produksi, harga gabah di tingkat petani, dan permintaan pasar tetap menjadi faktor dominan yang menentukan pergerakan harga.

NTP Tertinggi 34 Tahun: Klaim vs Data BPS

Amran mengklaim Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 127,84 pada Juli 2026, level tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Namun, data BPS untuk Juni 2026 menunjukkan NTP nasional berada di angka 127,65, turun tipis 0,06% dibanding Mei yang tercatat 127,73.

BPS menjelaskan penurunan tersebut terjadi karena kenaikan indeks harga yang diterima petani lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani. Artinya, beban biaya produksi masih tumbuh lebih cepat dari pendapatan petani. Klaim NTP Juli dari Kementan masih perlu menunggu publikasi resmi BPS untuk memastikan rincian pergerakannya.

Subsidi Pupuk Turun 20% dan Target Swasembada 3-5 Tahun

Pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20%, sebuah kebijakan yang disebut Amran belum pernah terjadi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Langkah ini diarahkan untuk menekan biaya produksi petani sekaligus menjaga produktivitas.

“Tidak pernah terjadi selama Republik Indonesia merdeka. Di bawah kepemimpinan Bapak Prabowo Subianto, ini luar biasa, sektor pertanian mengalami kebangkitan,” ujar Amran.

Pemerintah menargetkan penguatan produksi daging sapi, susu, dan kedelai dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan volume produksi, tetapi memastikan kesejahteraan petani dan peternak ikut membaik—bukan sekadar angka produksi yang naik di atas kertas.

Follow lampungonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: akurat.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks