BANDARLAMPUNG — Badan Karantina Indonesia (Barantin) memastikan ekspor monyet ekor panjang atau makaka dari Lampung tidak dilakukan sembarangan. Satwa yang dikirim ke Amerika Serikat itu dikhususkan untuk kebutuhan penelitian, bukan konsumsi, dan wajib memenuhi sederet persyaratan ketat.
"Sekarang ini yang boleh mengekspor makaka baru tujuan Amerika, serta tujuan ekspor ini hanya untuk penelitian, tidak boleh ditangkap di hutan tapi harus dibudidaya dengan standar tertentu," ujar Kepala Barantin Abdul Kadir Karding di Bandarlampung, Jumat.
Dua Tahun di Kandang Sebelum Dikirim
Karding menjelaskan, makaka yang siap diekspor harus berada di dalam kandang instalasi selama dua tahun. Satwa tersebut juga wajib memiliki kondisi fisik sehat dan tidak membawa penyakit. Seluruh proses pembudidayaan diawasi oleh banyak pihak.
Instalasi pengembangan makaka ini berada di Kabupaten Mesuji. Lokasi tersebut dipilih karena potensi satwa yang besar, selain Sulawesi dan Kepulauan Seribu.
"Mengeluarkan ini tidak sembarangan, sebab ada rekomendasi dari BRIN terkait berapa ekor yang boleh dikeluarkan dan dikirim. Lalu ada rekomendasi dari Kementerian Kehutanan untuk menentukan jenis yang boleh dikembangbiakkan," kata dia.
Makaka Jadi Hama, Budidaya Jadi Solusi Ekonomi
Pengembangan budidaya makaka dilakukan karena populasi satwa ini cukup banyak dan kerap menjadi hama. Konsumsi pakannya yang tinggi membuat monyet-monyet ini sering berinteraksi negatif dengan warga, bahkan diracun hingga disiksa.
"Kehadiran perusahaan menyelamatkan monyet-monyet ini agar tidak ada konflik antara manusia dan hewan," ujar Direktur Biomedikal Nusantara Reki Chandra.
Ia menambahkan, generasi pertama makaka yang dikembangbiakkan berasal dari tangkapan alam di Kabupaten Mesuji, Tulang Bawang, dan Tulang Bawang Barat, bukan dari kawasan hutan. Mayoritas merupakan monyet hasil interaksi negatif dengan masyarakat.
Potensi Pasar China 20 Ribu Ekor per Tahun
Harga jual monyet ekor panjang untuk penelitian mencapai 3.000-4.000 dolar AS per ekor atau setara Rp 10 juta lebih. Pembelinya adalah lembaga riset luar negeri.
"Potensi di pasar China itu sekitar 20 ribu ekor per tahun, sementara potensi di Amerika 10 ribu ekor per tahun," sebut Karding.
Meski pasar Amerika masih kecil, ia menyebut pasar China tengah dalam proses negosiasi terkait persyaratan yang harus dipenuhi. Saat ini, ekspor dari Lampung tercatat mencapai 1.000 ekor per tahun.
Kapasitas Instalasi Mencapai 4 Ribu Ekor
Instalasi pengembangbiakan makaka di Mesuji memiliki luas sekitar 4,9 hektare dengan kapasitas hingga 4.000 ekor. Saat ini, terdapat 804 ekor monyet yang dikembangbiakkan di lokasi tersebut.
Makaka dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki struktur anatomi serta sel yang mirip dengan babi dan menyerupai manusia. "Organnya ada kemiripan dengan babi dan manusia, jadi bisa dipakai untuk penelitian," tambah Karding.