BANDARLAMPUNG — Inovasi yang diberi tajuk "Transformasi Limbah Organik sebagai Inovasi Hijau untuk Pertanian, Perikanan, Peternakan, dan Ekonomi Desa" ini lahir dari keprihatinan terhadap dua ton sampah organik yang setiap hari menumpuk di Pasar Krui tanpa pengelolaan optimal. Teknologi Soluble Liquid (SL) menjadi tulang punggung program tersebut.
Formula SL merupakan larutan biang homogen dari 33 jenis tanaman Zingiberaceae (keluarga temu-temuan), minyak nabati, dan minyak hewani yang dicampur dengan air lindi. Sekretaris Tim Pemberdayaan Masyarakat BEM Unila, Tri Rizki Handayani, menjelaskan bahwa formula ini mampu mendekomposisi limbah organik secara instan dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa menimbulkan bau.
"Formula ini mampu mendekomposisi limbah organik secara instan dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa menimbulkan bau, sekaligus bertindak sebagai bioaktivator hayati yang kaya mikroorganisme pengurai," kata Tri Rizki dalam keterangan resmi di Bandarlampung, Selasa.
Dua Produk Unggulan Lahir dari Riset
Dari proses hilirisasi riset ini, tim mahasiswa Unila melahirkan dua merek produk unggulan. Pertama, Refnila (Rebio Fertilizer Universitas Lampung), yaitu pupuk organik cair yang memiliki enam varian spesifik—mulai dari pembenah tanah, stimulan pertumbuhan dan pembuahan, pemberantas hama, hingga varian antivibrio untuk kesehatan budi daya perikanan.
Kedua, Rafnila (Rebio Animal Feed Universitas Lampung) yang merupakan pakan dan suplemen unggas bernutrisi lengkap. Produk ini terbagi menjadi dua varian berdasarkan usia ternak: Protim 01 untuk usia 0–20 hari dan Protim 02 untuk usia hingga panen.
Transfer Teknologi ke Pemuda dan Nelayan
Di lapangan, Tim PM BEM Unila melakukan transfer teknologi skala industri rumah tangga kepada 20 pemuda karang taruna dan delapan anggota kelompok nelayan lokal. Untuk menjamin keberlanjutan program, mereka juga menghibahkan aset produksi berupa mesin pencacah sampah organik, alat pres ulir, dan mesin penggiling limbah ikan.
Targetnya, pemuda karang taruna mampu mengolah hingga 80 persen sampah organik pasar setiap bulan melalui manajemen ekonomi sirkular. Sementara itu, kelompok nelayan dilatih untuk mengolah 70 persen limbah ikan menjadi pakan bernutrisi tinggi.
"Program ini terbukti memberikan dampak berganda (multiplier effect) secara ekologis dan ekonomi yang mendukung pencapaian target SDGs—khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim)," tegas Tri Rizki.