LAMPUNG — Tim Audi Formula 1 mengawali musim perdananya dengan hasil positif di Australia, langsung merebut poin. Namun, euforia itu cepat sirna. Dari enam Grand Prix yang sudah dijalani, tim yang dulu bernama Sauber ini hanya mengoleksi dua poin dan berada di peringkat sembilan klasemen konstruktor, unggul tipis dari Aston Martin (1 poin) dan Cadillac (0 poin).
Kekacauan di Pucuk Pimpinan dan Rotasi Besar-besaran
Guncangan terbesar terjadi setelah GP China. Jonathan Wheatley, prinsipal tim yang menjadi wajah publik Audi, hengkang tanpa pemberitahuan resmi. Kepergiannya meninggalkan kehampaan yang terlihat jelas di mata seluruh anggota tim di Jepang. Pembalap Nico Hulkenberg bahkan mengaku mendapat kabar tersebut dari ibunya yang menonton televisi.
Mattia Binotto kemudian mengambil alih posisi prinsipal tim di Suzuka. Allan McNish, legenda Audi dan tiga kali juara Le Mans, dirotasi menjadi direktur balap mulai GP Miami. “Kau tak bisa mengubah DNA-mu. Aku sudah 25 tahun bersama Audi. Jika kau membelahku, kau akan melihat cincin Audi di sana,” ujar McNish kepada The Drive di Miami.
Mesin Baru, Sakit Tumbuh yang Tak Terhindarkan
Audi mengembangkan sendiri unit daya R26 untuk pertama kalinya dalam sejarah F1. Mesin ini merupakan power unit hybrid tersulit yang pernah dibuat pabrikan asal Jerman tersebut. Di atas kertas, performa mobil terbukti kompetitif di berbagai sirkuit—dari lurus panjang China hingga tikungan cepat Jepang dan jalan sempit Monako.
“Kau tak pernah bisa konservatif di motorsport. Kami mendorong batas,” kata McNish. “Tapi ini musim pertama, dan dengan perubahan regulasi besar, kau tak ingin agresif penuh di hari pertama. Yang penting adalah bagaimana kami berkembang menuju 2027, 2028, dan 2029.”
Sayangnya, keandalan menjadi momok. Di Miami, mobil Hulkenberg mengalami kegagalan mekanis pada lap formasi, sementara Gabriel Bortoleto didiskualifikasi karena tekanan udara mesin melebihi batas. Di Kanada, kedua mobil finis, tapi laju di sirkuit Gilles Villeneuve tidak sekompetitif yang diharapkan. Hulkenberg konsisten finis di posisi 11 atau 12—hanya selangkah dari zona poin.
Duet Pembalap: Veteran Tangguh dan Rookie Penuh Keyakinan
Hulkenberg, yang sudah membalap untuk 10 tim berbeda selama 16 tahun, menjadi tulang punggung. “Ada 22 dari kami yang mendapat pekerjaan terbaik di dunia. Jika kau tak bahagia melakukannya, aku tak tahu harus berkata apa,” katanya di Miami. Di sisi lain, Bortoleto yang berusia 21 tahun menunjukkan kematangan luar biasa. “Aku sangat percaya pada diriku sendiri. Jika kau rela mengorbankan segalanya untuk menjadi juara dunia, tak ada yang bisa menghentikanmu,” ucap pembalap Brasil itu di Montreal.
McNish mengakui tak perlu banyak campur tangan untuk menjaga fokus kedua pembalap. “Nico sudah berpengalaman. Gabi punya potensi kelas atas. Tugas saya hanya memberi sedikit panduan,” katanya.
Regulasi Berubah, Adaptasi Jadi Kunci
Perubahan regulasi teknis yang diterapkan mulai GP Miami menjadi tantangan tambahan. Audi mendukung perubahan aturan soal pengisian daya hybrid dan sistem pengereman, tapi perubahan itu datang terlambat. Tim hanya bisa menguji di atas dynamometer sebelum diterapkan di sirkuit. “Ini bagian dari proses belajar,” ujar McNish. “Lihat saja tim yang cepat tahun lalu tidak kompetitif tahun ini.”
McNish menegaskan bahwa target Audi bukanlah hasil instan. “Ferrari sudah melakukannya sejak zaman nabi. Ini musim pertama kami. Kami belum punya pengalaman untuk tahu semua batas yang bisa didorong,” katanya. Tim menargetkan kejuaraan dunia pada 2030, sesuai rencana “Mission 2030”.
“Kekacauan yang membangun fondasi,” demikian kesimpulan pengamatan langsung dari paddock. Audi mungkin belum menang, tapi semangat untuk memecahkan masalah di lingkungan teknis paling kompleks di dunia balap terasa nyata. “Kau harus memberinya waktu,” tutup McNish. “Di akhir tahun, kami duduk dan mengevaluasi. Pemenang bahagia. Yang kalah tidak. Dan kami ingin menjadi pemenang.”