BANDAR LAMPUNG — Disdikbud Provinsi Lampung menempatkan pelestarian Bahasa Lampung sebagai agenda prioritas di tengah arus modernisasi. Thomas Amirico menyampaikan hal itu di Bandar Lampung, Kamis (22/10/2026), dengan menyoroti ruang publik sebagai titik paling rapuh dalam praktik berbahasa daerah.
Menurut Thomas, heterogenitas masyarakat menjadi tantangan utama. Percakapan Bahasa Lampung masih dominan di wilayah yang relatif homogen, sementara di ibu kota provinsi penggunaannya menyusut ke beberapa kawasan saja.
Mengapa Bahasa Lampung Kian Jarang Terdengar di Bandar Lampung
Thomas menilai kondisi tersebut bukan sekadar soal kebiasaan warga. Ada persoalan desain komunikasi pembelajaran yang selama ini belum efektif menumbuhkan kembali penggunaan bahasa daerah secara aktif.
"Saat ini, Bahasa Lampung kurang familiar di ruang publik. Hal ini harus menjadi pengingat sekaligus refleksi bagi kita semua dalam upaya pelestarian bahasa daerah," ujar Thomas.
Ia membandingkan pola sebaran penutur di dua wilayah. Di Kabupaten Waykanan dan Pesisir Barat, Bahasa Lampung masih menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Di Kota Bandar Lampung, ruang percakapan itu jauh lebih sempit.
Seniman Masuk Sekolah Jadi Pintu Masuk Pelestarian
Disdikbud Lampung menyiapkan pendekatan seni budaya melalui lingkungan sekolah. Rencananya, seniman dihadirkan langsung ke sekolah-sekolah untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda pada bahasa dan budaya lokal.
Langkah itu diharapkan tidak berhenti di ruang kelas. Thomas ingin kebiasaan berbahasa Lampung yang tumbuh di sekolah merembes ke percakapan warga di ruang publik.
"Ruang percakapan Bahasa Lampung harus terus dihidupkan. Ini menjadi atensi khusus bagi kami untuk merumuskan pola dan strategi yang dapat menumbuhkan kembali kebiasaan berbahasa Lampung di tengah masyarakat," tambahnya.
Belajar dari Yogyakarta dan Bali
Disdikbud juga mendorong agenda kebudayaan rutin di ruang publik yang bisa dinikmati warga luas sekaligus menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Thomas merujuk pengalaman Yogyakarta dan Bali sebagai contoh pertunjukan seni yang konsisten.
"Kita memerlukan kegiatan kebudayaan yang berkelanjutan dan tersaji secara rutin, seperti yang sukses diterapkan di Yogyakarta atau Bali. Pertunjukan seni yang konsisten di ruang publik tidak hanya berfungsi melestarikan budaya dan menarik wisatawan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah kita," pungkasnya.
Dari dua rencana itu, Disdikbud Lampung belum memerinci jadwal pelaksanaan maupun anggaran yang disiapkan. Yang jelas, arah kebijakannya kini bergeser dari sekadar pembelajaran formal ke upaya menghidupkan kembali percakapan Bahasa Lampung di ruang publik.