LAMPUNG — Nilai ekspor Indonesia mencapai US$167,03 miliar pada Januari–Juli 2026, tumbuh 4,43% dari periode sama tahun lalu. Namun kinerja itu tidak otomatis membuat barang Indonesia kompetitif di pasar global karena biaya logistik yang mahal menempel di sepanjang perjalanan ekspor.
Badan Pusat Statistik mencatat ekspor nonmigas mencapai US$160,01 miliar pada periode yang sama, naik 5,21%. Pada Juli 2026 saja, nilai ekspor menembus US$26,22 miliar. Angka-angka itu menunjukkan kemampuan Indonesia menjual ke luar negeri masih kuat.
Persoalannya, kemampuan menjual tidak sama dengan kemampuan menjual dengan biaya efisien. Pembeli di pasar global membandingkan harga barang hingga tiba di tangan mereka, bukan hanya harga di negara asal.
Biaya Logistik yang Menempel di Setiap Tahap Perjalanan
Sebuah produk bisa dibuat dengan bahan baku murah dan tenaga kerja produktif. Tetapi ketika barang harus berpindah dari sentra produksi ke pelabuhan, menunggu di terminal, melewati administrasi, dimuat ke kapal, dan dikirim ke negara tujuan, biaya yang menempel bisa membengkak signifikan.
Akibatnya, produk keluar dari pabrik dengan harga kompetitif, tetapi tiba di pasar global dengan harga yang tidak lagi bersaing. Dalam perdagangan global modern, reliabilitas waktu pengiriman sudah menjadi bagian dari harga itu sendiri.
World Bank dalam laporan Indonesia Economic Prospects Juni 2026 menyoroti persoalan struktural transportasi Indonesia. Jasa transportasi dalam negeri termasuk yang paling restriktif di ASEAN. Waktu penyelesaian kapal di pelabuhan juga relatif lama dan tidak konsisten dibandingkan negara pembanding.
Ketidakpastian waktu membuat perusahaan harus menyediakan buffer persediaan lebih besar. Logistik yang tidak efisien membuat modal ikut tidak efisien.
Dominasi Angkutan Darat di Negara Kepulauan
Data World Bank 2024 menunjukkan transportasi darat merupakan komponen terbesar biaya transportasi logistik Indonesia. Dalam struktur biaya transportasi sebagai bagian dari PDB, angkutan darat nonkereta mencapai 2,66%.
- Angkutan darat nonkereta: 2,66% dari PDB
- Angkutan laut: 1,02% dari PDB
- Kereta api: 0,04% dari PDB
Indonesia adalah negara kepulauan, tetapi rantai distribusinya masih sangat bergantung pada transportasi darat. Barang yang seharusnya bisa diangkut lebih efisien melalui kombinasi laut dan kereta api masih harus melewati jaringan jalan panjang. Setiap perpindahan moda menimbulkan biaya tambahan.
Kondisi geografis memang tantangan alamiah. Tetapi geografis tidak boleh menjadi alasan permanen bagi mahalnya logistik. Masalahnya bukan semata-mata Indonesia terdiri atas ribuan pulau, melainkan belum terbangunnya sistem konektivitas antarmoda yang memungkinkan keunggulan geografis dikelola efisien.
Pelabuhan Bukan Sekadar Infrastruktur Fisik
Pelabuhan berfungsi sebagai simpul perdagangan, bukan hanya dermaga. Sebuah pelabuhan bisa memiliki fasilitas modern, tetapi jika truk mengantre panjang, dokumen belum terintegrasi, dan pemeriksaan dilakukan berulang, investasi fisik tersebut belum menghasilkan efisiensi optimal.
Pemerintah telah menjalankan digitalisasi melalui National Logistics Ecosystem (NLE) dan berbagai reformasi kepabeanan. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar digitalisasi layanan, melainkan bagaimana seluruh ekosistem bekerja sebagai satu sistem.
Digitalisasi satu institusi tidak otomatis menghasilkan logistik efisien apabila institusi lain dalam rantai yang sama belum terhubung. Integrasi lintas lembaga menjadi kunci agar barang bergerak lebih cepat dan biaya yang menempel bisa ditekan.
Apa Artinya bagi Pelaku Ekspor dan Investor
Bagi pelaku usaha, efisiensi logistik menentukan margin. Setiap hari tambahan di pelabuhan atau setiap perpindahan moda yang tidak perlu langsung menggerus keuntungan. Bagi investor, sektor logistik dan transportasi menjadi area yang perlu dicermati karena perbaikan sistem berdampak langsung pada daya saing ekspor nasional.
Tanpa pembenahan menyeluruh, pertumbuhan nilai ekspor bisa terus terjadi secara nominal. Namun daya saing biaya Indonesia di pasar global akan tetap tertinggal selama perjalanan barang menuju pembeli luar negeri masih mahal.