Perum Bulog Kanwil Lampung mengoptimalkan penyerapan gabah kering panen dari petani di Provinsi Lampung dengan realisasi mencapai 222.698 ton setara beras hingga saat ini. Capaian tersebut setara 87,72 persen dari target pengadaan yang ditetapkan kantor pusat sebesar 253.883 ton sepanjang 2026.
BANDARLAMPUNG — Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Lampung mencatat realisasi serapan gabah kering panen dari petani telah mencapai 435.362 ton setara gabah pada 2026. Angka itu setara dengan 222.698 ton beras atau 87,72 persen dari target pengadaan yang dibebankan kantor pusat.
Pihak Bulog Lampung optimistis target pengadaan gabah setara beras sebanyak 253.883 ton hingga akhir tahun dapat tercapai. Optimisme itu muncul karena Lampung merupakan salah satu daerah penghasil padi utama di Pulau Sumatera.
Realisasi Capai 87,72 Persen, Optimisme Kuat di Daerah Produsen
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Lampung, Rindo Safutra, mengungkapkan pihaknya masih gencar menyerap gabah dari berbagai sumber. Pasokan berasal dari kelompok tani, mitra kerja, hingga Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) yang tersebar di kabupaten/kota.
"Per hari ini kami masih terus melakukan serapan gabah dari kelompok tani, mitra, dan berbagai pihak untuk menjaga serapan di petani," ujar Rindo dalam Rapat Implementasi Pergub Nomor 7 Tahun 2026 di Bandarlampung, Kamis.
Laju penyerapan harian terbilang tinggi. Bulog Lampung mampu menyerap gabah kering panen sebanyak 1.000 hingga 2.000 ton setiap hari.
Rincian Stok: 232.887 Ton Beras Medium Dikuasai Pemerintah
Dari total stok yang dikuasai di Provinsi Lampung, Bulog mencatat jumlah beras milik pemerintah mencapai 232.887 ton. Seluruhnya merupakan beras dengan kriteria medium hasil pengadaan di wilayah Lampung untuk periode 2026.
Pihak Bulog menjelaskan stok tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas harga dan distribusi pangan di daerah. Beras medium merupakan komoditas yang kerap digunakan untuk operasi pasar maupun program bantuan pangan pemerintah.
Keberadaan stok beras yang besar ini dinilai strategis, terutama saat menghadapi potensi gejolak harga di tingkat konsumen maupun gangguan pasokan pada musim-musim tertentu.