Pencarian

Berat Badan Bayi 4-6 Bulan Idealnya Berapa? Begini Standar WHO dan Tanda Bahaya Gizi Buruk

Kamis, 13 Agustus 2026 • 09:58:31 WIB
Berat Badan Bayi 4-6 Bulan Idealnya Berapa? Begini Standar WHO dan Tanda Bahaya Gizi Buruk
Bayi berusia 4-6 bulan di Mandailing Natal, Sumatera Utara, memiliki berat badan 2 kilogram, jauh di bawah standar WHO.

LAMPUNG — Kabar memprihatinkan datang dari Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Sebuah keluarga dengan delapan anak dan keterbatasan ekonomi menjadi sorotan setelah bayi bungsu mereka yang berusia sekitar 4-6 bulan diketahui memiliki berat badan hanya 2 kilogram. Kondisi ini memicu gelombang simpati dari netizen, sekaligus menjadi pengingat keras akan pentingnya memantau tumbuh kembang si kecil sesuai standar medis.

Angka 2 kilogram pada bayi seusia itu bukan sekadar di bawah normal, melainkan kondisi ekstrem yang membutuhkan penanganan darurat. Agar ibu lebih paham, mari kita bedah bersama standar berat badan ideal bayi dan kapan harus segera bertindak.

Standar Berat Badan Ideal Bayi Usia 4-6 Bulan Menurut WHO

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan kurva pertumbuhan standar yang digunakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kurva ini menjadi acuan utama tenaga kesehatan untuk menilai apakah berat badan anak sesuai dengan usianya.

Berdasarkan standar tersebut, bayi laki-laki berusia 4 bulan idealnya memiliki berat badan antara 5,6 hingga 7,8 kilogram. Sementara itu, saat menginjak usia 6 bulan, berat badan ideal bayi laki-laki seharusnya berada di kisaran 6,4 hingga 8,8 kilogram.

Dengan patokan ini, jelas terlihat bahwa berat 2 kilogram pada bayi usia 4-6 bulan berada jauh di bawah garis normal. Bahkan, angka tersebut lebih rendah dari berat lahir minimum bayi cukup bulan yang sehat, yaitu 2,5 kilogram. Kondisi ini mengindikasikan gangguan pertumbuhan ekstrem atau malnutrisi berat yang lazim disebut gizi buruk.

Mengapa ASI Eksklusif Menjadi Kunci di 6 Bulan Pertama?

Dalam kasus viral ini, ibu bayi sempat mengunggah video sedang menyuapi anaknya dengan bubur. Padahal, WHO dengan tegas menyarankan pemberian ASI eksklusif hingga bayi genap berusia 6 bulan. Artinya, sebelum usia tersebut, bayi sebaiknya hanya menerima ASI saja.

Memberikan MPASI terlalu dini, terutama sebelum bayi menunjukkan kesiapan, bisa berisiko. Sistem pencernaan bayi yang belum sempurna belum tentu mampu mengolah makanan padat, dan hal ini justru bisa mengurangi asupan ASI yang kaya nutrisi penting untuk pertumbuhan otak dan fisik.

Jadi, sebelum memutuskan memberikan bubur atau makanan lain di usia 4-6 bulan, pastikan si kecil sudah menunjukkan tanda-tanda siap MPASI. Jangan hanya melihat usia, tetapi juga kemampuan fisiknya.

Tanda-Tanda Bayi Siap Menerima MPASI

Setiap bayi memiliki kesiapan yang berbeda-beda. Beberapa bayi mungkin sudah siap di usia mendekati 6 bulan, sementara yang lain butuh waktu lebih. Perhatikan empat tanda kunci berikut sebelum mengenalkan makanan padat:

  • Kepala dan leher tegak: Bayi sudah mampu duduk dengan tegak dan stabil tanpa bantuan, serta bisa mengontrol gerakan kepalanya sendiri.
  • Refleks lidah berkurang: Refleks menjulurkan lidah (ekstrusi) yang mendorong makanan keluar dari mulut sudah mulai menghilang.
  • Tertarik pada makanan: Si kecil menunjukkan minat yang jelas, seperti menatap makanan, membuka mulut saat orang lain makan, atau mencoba meraih sendok.
  • Mampu menelan: Bayi bisa menutup mulutnya dengan baik dan menelan makanan, bukan hanya menyedot atau mendorongnya keluar dengan lidah.

Kapan Harus Segera Membawa Bayi ke Dokter?

Berat badan adalah indikator utama kesehatan bayi. Jika grafik pertumbuhan bayi tidak naik sesuai kurva WHO, atau bahkan menurun, ini adalah tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Jangan menunggu sampai bayi terlihat sangat kurus seperti dalam video viral tersebut.

Segera konsultasikan dengan dokter anak atau kunjungi posyandu terdekat jika berat badan bayi tidak naik selama dua bulan berturut-turut, terlihat lesu, atau tidak mencapai standar minimal usianya. Penanganan dini oleh tenaga medis sangat penting untuk mencegah dampak jangka panjang pada perkembangan otak dan fisik anak.

Kondisi ekonomi memang bisa menjadi tantangan, tetapi pemantauan tumbuh kembang yang rutin dan konsultasi ke fasilitas kesehatan bisa membantu mendeteksi masalah sejak awal. Jangan ragu untuk mencari bantuan tenaga kesehatan, karena penanganan yang cepat adalah kunci utama untuk menyelamatkan masa depan si kecil.

Follow lampungonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tvonenews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks