BANDARLAMPUNG — Nilai ekspor Lampung pada Mei 2026 tercatat sebesar 477,52 juta dolar AS, turun 15,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 565,33 juta dolar AS. Di sisi lain, impor justru melonjak 27,62 persen menjadi 226,21 juta dolar AS dari sebelumnya 177,25 juta dolar AS.
Statistisi Ahli Muda BPS Lampung M Sabiel Adi Prakasa menyatakan surplus Mei 2026 berasal dari sektor nonmigas. "Sektor nonmigas menyumbang surplus sebesar 251,35 juta dolar AS, sedangkan sektor migas mengalami defisit sebesar 0,03 juta dolar AS," ujarnya dalam keterangan daring, Rabu.
Kumulatif Januari-Mei 2026: Surplus 1,6 Miliar Dolar AS
Secara kumulatif periode Januari hingga Mei 2026, neraca perdagangan Lampung mencatat surplus sebesar 1.647,51 juta dolar AS. Sektor nonmigas kembali menjadi motor utama dengan surplus 1.682,71 juta dolar AS, sementara sektor migas defisit 35,19 juta dolar AS.
Nilai ekspor Lampung dalam lima bulan pertama 2026 mencapai 2.362,99 juta dolar AS. Dari sepuluh barang utama ekspor nonmigas, golongan bahan kimia organik mencatat lonjakan tertinggi sebesar 170,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tiga Negara Tujuan Ekspor dan Pemasok Impor Terbesar
Sepanjang Januari-Mei 2026, tiga negara tujuan ekspor terbesar Lampung adalah Amerika Serikat dengan nilai 344,26 juta dolar AS, disusul Tiongkok sebesar 304,23 juta dolar AS, dan Belanda sebesar 224,7 juta dolar AS.
Sementara dari sisi impor, nilai total barang yang masuk ke Lampung mencapai 715,47 juta dolar AS. Tiga negara pemasok terbesar adalah Jerman sebesar 156,09 juta dolar AS, Amerika Serikat 132,55 juta dolar AS, dan Australia 76,36 juta dolar AS.
Menariknya, golongan barang impor kereta api, trem, dan bagiannya mencatat peningkatan tertinggi sebesar 58.018 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan drastis ini mengindikasikan adanya kebutuhan besar akan moda transportasi rel di Lampung, baik untuk proyek infrastruktur maupun industri.