LAMPUNG — Peluncuran Sport in Indonesia menjadi pintu masuk pembangunan ekosistem olahraga nasional yang lebih terintegrasi. Portal ini berfungsi sebagai satu pintu akses informasi bagi pelaku industri olahraga, wisatawan, dan investor yang ingin terlibat dalam pengembangan sport tourism dan sport industry di Tanah Air.
"Kita merilis hari ini Sport in Indonesia, kalender besar olahraga di Indonesia. Kalender besar ya, bukan kecil-kecil. Sekalian kita mempromosikan infrastruktur yang kita punya yang layak dan dirawat dengan baik, dan juga tentu event-event yang harus diinformasikan kepada dunia, seperti pencak silat, karapan sapi, dan yang lain," ujar Erick kepada wartawan termasuk tvrinews.com.
Dari Biaya Menjadi Investasi: Pergeseran Cara Pandang
Erick menegaskan bahwa perubahan cara pandang terhadap olahraga merupakan intervensi mendasar yang harus dilakukan pemerintah. Selama ini, olahraga kerap diposisikan sebagai beban anggaran semata, bukan sebagai sektor yang menghasilkan nilai tambah.
"Dan itulah intervensi yang kita harus balikkan, bahwa olahraga ini adalah investasi, bukan selama ini setelah tahun 1962 sampai sekarang terus terjadi pemerosotan, bahwa olahraga itu biaya, biaya, biaya. Ini yang harus kita rubah," kata Erick.
Menurutnya, pandangan baru ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan olahraga sebagai instrumen pembangunan karakter bangsa. Olahraga bukan hanya soal prestasi di lapangan, tetapi juga pembentukan disiplin, sportivitas, dan daya saing generasi muda.
Perluasan Stakeholder: Swasta dan Masyarakat Masuk Ekosistem
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, ISS 2026 melibatkan pemangku kepentingan yang lebih luas. Kemenpora secara aktif mendorong sektor swasta dan masyarakat untuk menjadi bagian dari pembangunan olahraga nasional secara menyeluruh.
"ISS tahun ini kita melibatkan semua stakeholders yang lebih besar, yaitu private sector dan masyarakat, untuk menjadi bagian daripada pembangunan olahraga secara menyeluruh," ucap Erick.
Pada ISS 2025, fokus utama kegiatan adalah menyamakan perspektif antara pemangku kepentingan olahraga dengan kementerian dan lembaga terkait. Langkah itu dinilai penting karena pengembangan prestasi, sport tourism, dan sport industry selama ini terkendala peraturan yang saling tumpang tindih antar sektor.
"ISS 2025 lalu kita lebih bagaimana kita menyamakan perspektifnya dulu di antara stakeholder dengan kementerian atau lembaga lain. Karena tidak mungkin kalau kita mau mendorong sebuah prestasi olahraga di masyarakat, sport tourism, sport industri, tetapi banyak peraturan yang masih saling mengikat," ujar Erick.
Sport in Indonesia sebagai Agregator Ekosistem
Kehadiran Sport in Indonesia diharapkan memperkuat peran Kemenpora sebagai agregator ekosistem olahraga. Portal ini menjadi kanal yang menyatukan informasi infrastruktur, kalender event, dan peluang investasi di sektor olahraga.
"Jadi tentu hari ini saya senang bahwa Kemenpora di tahun kedua Indonesia Sport Summit sudah punya loncatan baru, yaitu menjadi agregator yang namanya Sport in Indonesia. Di situ menjadi satu pintu portal yang semuanya bisa memberikan akses, ya, untuk sport industri, sport tourism," tutur Erick.
Bagi pelaku industri, peluncuran ini membuka peluang kolaborasi yang lebih terstruktur, mulai dari penyelenggaraan event, pengelolaan infrastruktur, hingga pengembangan wisata berbasis olahraga di daerah. Pemerintah berharap pendekatan satu pintu ini memangkas hambatan regulasi yang selama ini memperlambat pertumbuhan sektor olahraga nasional.
Investasi mengandung risiko.