BANDARLAMPUNG — Penutupan Lampung Begawi x SigerFest 2026 dilakukan Gubernur Lampung yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan. Kegiatan yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung ini berlangsung di Lampung City Mall sejak Jumat hingga Minggu (20/09/2026) malam.
Festival mengusung tema "Sai Bumi, Sejuta Nilai: Hilirisasi Komoditas Unggulan Lampung untuk Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif dan Berdaya Saing". Selama tiga hari, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi pemerintah, dunia usaha, perbankan, akademisi, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat.
Bank Indonesia Provinsi Lampung mencatat jumlah pengunjung festival mencapai sekitar 28.000 orang. Realisasi penjualan makanan, minuman, dan wastra tercatat sedikit di atas Rp 500 juta.
Transaksi wakaf yang berlangsung di Lamban Kupi mencapai 1.248 transaksi. Capaian itu melengkapi rangkaian kegiatan selama tiga hari pelaksanaan.
Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Daerah, Gubernur Lampung menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia dan seluruh pihak yang berkolaborasi. Menurutnya, kegiatan itu menunjukkan Lampung memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah.
"Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Bank Indonesia beserta seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari ikhtiar ini," ujarnya.
Gubernur menegaskan Lampung memiliki beragam komoditas unggulan, mulai dari hasil pertanian dan perkebunan, kopi, pangan, wastra, produk UMKM, hingga ekonomi kreatif. Potensi itu perlu dikembangkan dari sekadar menghasilkan komoditas menjadi produk bernilai tambah.
"Lampung tidak boleh berhenti sebagai daerah penghasil. Lampung harus menjadi daerah pencipta nilai tambah. Kopi Lampung jangan berhenti sebagai biji kopi. Hasil pertanian kita jangan berhenti sebagai bahan mentah. Produk UMKM jangan berhenti pada produksi skala kecil," tegasnya.
Menurut Gubernur, penguatan nilai tambah dapat dilakukan melalui proses berkelanjutan, mulai dari produksi menuju pengolahan, kemudian menjadi produk, membangun merek, hingga memperluas akses pasar.
Gubernur juga menekankan pentingnya digitalisasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik. Ia mengapresiasi perluasan penggunaan QRIS, penguatan sistem pembayaran digital, serta berbagai inovasi yang dikembangkan Bank Indonesia bersama para pemangku kepentingan.
"Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, digitalisasi bukan lagi pilihan. Digitalisasi adalah sebuah keniscayaan dan kebutuhan," ujarnya.
Semangat itu, lanjutnya, perlu diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan melalui pelayanan publik yang semakin cepat dan penerimaan daerah yang semakin transparan.
"Teknologi harus menjadi alat untuk mempermudah masyarakat, bukan untuk mempersulit masyarakat. Itulah semangat yang harus kita bawa pulang dari Lampung Begawi x SigerFest 2026," katanya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Lampung, pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan festival. Menurutnya, kegiatan tahun ini mengusung semangat memperkuat hilirisasi dan digitalisasi sebagai pondasi ekonomi kerakyatan.
"Lampung Begawi x SigerFest 2026 dirancang bukan sekadar sebagai sebuah festival atau pameran produk, khususnya UMKM, tetapi merupakan sebuah ruang kolaborasi yang mempertemukan UMKM, dunia usaha, perbankan, pemerintah, komunitas dan masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Lampung," jelasnya.
Gubernur mengajak seluruh pihak menjadikan semangat "Sai Bumi Sejuta Nilai" bukan sekadar tema festival, tetapi bagian dari upaya bersama membangun perekonomian Lampung.
"Kita ingin Lampung menjadi tempat yang nyaman untuk berusaha, tempat yang menarik untuk berinvestasi, dan tempat yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berkembang," ujarnya.