LAMPUNG — Suku bunga acuan Bank Indonesia berpotensi naik dari posisi 5,75% seiring tekanan eksternal dari kenaikan suku bunga The Federal Reserve dan Bank of Japan. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai fenomena fly to quality atau pelarian modal ke aset berkualitas memaksa BI menempuh langkah agresif untuk menahan pelemahan rupiah. Sepanjang tahun ini, BI Rate sudah naik 100 basis poin dan ruang kenaikan lanjutan masih terbuka lebar.
Tekanan terhadap rupiah diprediksi belum mereda dalam waktu dekat. Wijayanto menilai kombinasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral negara-negara maju, terutama The Federal Reserve dan Bank of Japan, menciptakan dinamika moneter global yang sulit dibendung oleh instrumen konvensional BI.
"Langkah BI yang selama ini dijalankan berupa operasi pasar yang masif, menaikkan suku bunga SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) dan memfasilitasi transaksi swap rupiah terhadap dolar AS tidak akan memadai," ujar Wijayanto kepada Bloomberg Technoz, Kamis (17/9/2026).
Kebijakan bank sentral Amerika Serikat dan Jepang yang menaikkan suku bunga acuan berdampak sangat signifikan terhadap situasi ekonomi dunia. Wijayanto menjelaskan seluruh bank sentral di dunia akan merespons dengan kebijakan serupa, yakni mengantisipasi pembalikan arus modal keluar.
Fenomena fly to quality mendorong investor global memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Negara berkembang seperti Indonesia menjadi pihak yang paling rentan terkena dampaknya, terutama jika imbal hasil instrumen lokal tidak cukup kompetitif.
Saat ini, BI Rate berada di level 5,75%, telah meningkat 100 basis poin sepanjang tahun ini. Kenaikan lanjutan diperlukan untuk menjaga daya tarik aset rupiah di mata investor asing.
BI telah menjalankan sejumlah langkah untuk menstabilkan rupiah. Operasi pasar masif, kenaikan suku bunga SRBI, dan fasilitasi transaksi swap rupiah terhadap dolar AS menjadi senjata utama bank sentral.
Wijayanto menegaskan ketiga langkah tersebut tidak akan memadai menghadapi tekanan global yang semakin kompleks. Kenaikan suku bunga acuan menjadi pilihan yang semakin dibutuhkan untuk menghindari rupiah tertekan terlalu dalam.
Kenaikan BI Rate berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi negara dan surat utang korporasi. Bagi investor, ini bisa menjadi peluang untuk masuk ke instrumen pendapatan tetap dengan yield yang lebih menarik.
Namun, dari sisi pelaku bisnis, biaya pinjaman akan meningkat. Sektor properti, otomotif, dan konsumer yang sensitif terhadap suku bunga berpotensi menghadapi tekanan permintaan jika kenaikan BI Rate terealisasi.
Pergerakan rupiah terhadap dolar AS menjadi indikator kunci yang perlu dicermati dalam beberapa pekan ke depan. Jika tekanan eksternal berlanjut, ruang bagi BI untuk menahan suku bunga semakin sempit.