LAMPUNG — Manajemen Timah menetapkan dividen sebesar Rp88,19 per lembar saham. Angka ini dihitung dari total laba bersih yang dibukukan perseroan pada 2025.
Mengacu pada harga penutupan saham TINS di level Rp3.300 per saham pada perdagangan Jumat lalu, dividend yield yang diperoleh investor mencapai 2,67 persen. Bagi pemegang saham, angka ini menjadi indikasi imbal hasil tahunan dari kepemilikan saham emiten pelat merah tersebut.
Sisa laba bersih sebesar Rp656,8 miliar tidak dibagikan kepada pemegang saham. Perusahaan memutuskan untuk menahan dana tersebut sebagai saldo laba ditahan.
Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro menjelaskan, dana yang ditahan akan digunakan untuk mendanai pengembangan usaha serta memperkuat struktur permodalan perusahaan. "Pembagian dividen ini mencerminkan kinerja positif yang berhasil dibukukan Perseroan," ujarnya dalam RUPST.
Restu menambahkan, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari upaya perseroan meningkatkan efektivitas operasional, memperkuat fundamental bisnis, serta menjaga daya saing di tengah tantangan industri yang terus berkembang.
Laba bersih Rp1,31 triliun yang dibukukan Timah pada 2025 menjadi dasar pembagian dividen kali ini. Capaian tersebut menunjukkan perbaikan kinerja keuangan emiten tambang timah milik negara.
Kebijakan dividen 50 persen dari laba bersih ini sejalan dengan praktik umum BUMN lain yang rutin membagikan sebagian keuntungan kepada pemegang saham, termasuk pemerintah sebagai pemilik mayoritas. Sisa laba yang ditahan diharapkan bisa mendukung ekspansi dan ketahanan modal perusahaan di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Bagi investor, keputusan ini memberikan kepastian imbal hasil dividen di tengah volatilitas pasar saham sektor tambang. Sementara bagi perusahaan, dana yang ditahan menjadi bantalan untuk mengantisipasi tekanan bisnis ke depan.