LAMPUNG — Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, kembali melontarkan pernyataan kontroversial yang memicu kecaman internasional. Dalam rapat Kabinet Keamanan, ia menyerukan pengeboman Kota Beirut, pendudukan wilayah Lebanon, dan penangkapan terhadap perempuan serta anak-anak yang diduga terkait dengan pejuang Hizbullah.
Ben Gvir beralasan, langkah ekstrem itu merupakan bentuk pembalasan atas serangan drone yang dilancarkan Hizbullah ke wilayah Israel. Ia menilai serangan tersebut membuat militer Israel kalang kabut dan membutuhkan respons di luar kebiasaan.
“Kita harus berpikir di luar kotak mengenai Hizbullah, dan kita juga harus mempertimbangkan pendudukan wilayah dan membunuh banyak teroris,” kata Ben Gvir, seperti dikutip surat kabar Maariv, dalam rapat yang digelar pekan ini.
Dalam pernyataannya, Ben Gvir secara spesifik menargetkan kelompok rentan sebagai sasaran operasi militer. Ia menyerukan penangkapan perempuan dan anak-anak yang merupakan keluarga dari para pejuang Hizbullah.
“Inilah yang paling menyakitkan mereka,” ujarnya, merujuk pada strategi yang dinilainya paling efektif untuk melemahkan moral lawan.
Pernyataan Ben Gvir itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon. Dalam kesempatan yang sama, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar justru mengambil nada yang berbeda. Ia menuduh Hizbullah tengah berusaha menyeret Israel ke dalam perang skala penuh.
“Mereka sengaja memprovokasi agar konflik meluas,” ujar Saar, mengindikasikan adanya perbedaan pendekatan di internal kabinet keamanan Israel.
Seruan pendudukan dan penangkapan sipil yang dilontarkan Ben Gvir bukanlah yang pertama. Sebagai tokoh sayap kanan radikal, ia kerap mendorong kebijakan agresif terhadap Palestina dan negara-negara tetangga. Langkah ini dikhawatirkan akan memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang sudah memanas.