Konflik Gajah dan Warga Lampung Timur Memanas, TNI Turun Tangan Jaga Desa Penyangga

Penulis: Redaksi  •  Senin, 26 Januari 2026 | 18:00:10 WIB
Personel TNI diterjunkan untuk mengatasi konflik antara gajah liar dan masyarakat di Lampung Timur.

Bandarlampung, Lampung – Tentara Nasional Indonesia mengerahkan personel guna membantu meredam eskalasi konflik antara gajah liar dan masyarakat di Kabupaten Lampung Timur. Upaya ini dilakukan seiring rencana pembangunan pagar pembatas di sepanjang wilayah perbatasan Taman Nasional Way Kambas.

Pengerahan pasukan tersebut merupakan bagian dari tugas bantuan TNI kepada pemerintah daerah, ujar Panglima Komando Daerah Militer II/Sriwijaya, Mayor Jenderal Kristomei Sianturi, dalam keterangan resminya di Bandar Lampung, Senin.

Ia menjelaskan bahwa prajurit dari Batalyon Infanteri Pembangunan Wilayah Labuhan Ratu ditugaskan untuk mendampingi warga dalam menghalau gajah liar serta menjaga keamanan desa-desa yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas.

Menurut Kristomei, langkah ini dinilai krusial mengingat konflik antara manusia dan gajah di wilayah tersebut telah terjadi sejak lama. Konflik ini kerap menimbulkan kerugian, mulai dari kerusakan lahan pertanian hingga fasilitas umum, bahkan dalam sejumlah kasus menyebabkan korban jiwa.

Sementara itu, Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor guna menjamin keselamatan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan konservasi yang menjadi habitat satwa dilindungi.

Ia menyampaikan bahwa selain pembangunan sarana fisik, keterlibatan unsur militer juga dibutuhkan untuk menjaga kondisi keamanan serta menekan risiko masuknya gajah liar ke wilayah permukiman.

Ela menambahkan, pembangunan pagar pembatas diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar gajah tetap berada di habitat alaminya, sekaligus memberi rasa aman bagi masyarakat desa penyangga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Kami berharap keberadaan pagar permanen ini mampu menjadi jalan keluar berkelanjutan atas konflik gajah dan manusia di Lampung Timur,” ujarnya, merujuk pada berbagai kejadian berulang berupa perusakan tanaman dan gangguan terhadap kehidupan desa.

Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Lampung telah menyepakati rencana terpadu, termasuk pembangunan pagar permanen dengan panjang sekitar 60 hingga 70 kilometer di sepanjang batas kawasan taman nasional.

Proyek tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada 2026 dan saat ini masih berada pada tahap survei awal. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, keselamatan satwa, serta perlindungan optimal bagi masyarakat, kata para pejabat.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan gajah Sumatera sebagai salah satu mamalia yang terancam punah.

Mengacu pada data di situs resmi World Wildlife Fund (WWF), populasi gajah Sumatera diperkirakan berkisar antara 2.400 hingga 2.800 ekor.

Organisasi konservasi internasional tersebut juga menyebutkan bahwa perdagangan gading masih ditemukan di pasar-pasar di Afrika dan Asia, serta di Amerika Serikat dan Eropa.

WWF menegaskan bahwa perburuan ilegal untuk perdagangan gading hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup gajah liar di berbagai negara.

 
Reporter: Redaksi
Back to top