BANDAR LAMPUNG — Sebanyak 203 titik panas (hotspot) terdeteksi menyebar di 13 kabupaten/kota di Provinsi Lampung, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Mesuji yang mencapai 57 titik. Data BMKG per 24 Agustus 2026 ini menjadi alarm dini bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Lonjakan titik panas ini terjadi di tengah upaya pemadaman kebakaran lahan gambut seluas 673,4 hektare di TNWK yang sempat meredam pada Sabtu malam (22/08/26). Namun, api kembali muncul di Desa Braja Luhur, Kecamatan Braja Selebah, hanya berselang sehari kemudian.
Sebaran Titik Panas: Mesuji Tertinggi, Way Kanan dan Tulang Bawang Menyusul
Berdasarkan rilis BMKG, selain Mesuji, sebaran titik panas signifikan juga tercatat di Way Kanan dengan 36 titik dan Tulang Bawang 27 titik. Wilayah lain yang turut menyumbang angka besar adalah Lampung Tengah 19 titik dan Lampung Utara 16 titik.
Data lengkapnya, Tulang Bawang Barat mencatatkan 15 titik, Lampung Selatan 14 titik, serta Pesisir Barat 6 titik. Sementara itu, Lampung Timur dan Pesawaran masing-masing mendeteksi 5 titik, disusul Lampung Barat, Tanggamus, dan wilayah perkotaan yang masing-masing memiliki satu titik panas.
Desakan untuk Perusahaan Perkebunan dan Peran Aktif Karang Taruna
Merespons kondisi ini, Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung yang juga pengurus Karang Taruna, Deni Ribowo, mendesak perusahaan perkebunan mengintensifkan patroli mandiri di area konsesi. Langkah ini dinilai krusial untuk mendeteksi dini munculnya titik api sebelum meluas.
"Lakukan patroli untuk mencegah adanya titik api. Kita maksimalkan upaya preventif agar tidak ada lagi karhutla," ujar Deni, Senin (24/08/26).
Deni juga menginstruksikan seluruh kader Karang Taruna di tingkat desa, kampung, hingga pekon untuk mengambil peran aktif dalam mitigasi kebencanaan di lingkungan masing-masing.
"Mengajak insan Karang Taruna di desa untuk turut serta dalam melakukan pemadaman titik api bersama masyarakat bila ada kebakaran," katanya.
Kolaborasi Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas
Deni menegaskan bahwa potensi ancaman kebakaran dapat muncul sewaktu-waktu di berbagai titik lokasi. Menurutnya, kolaborasi seluruh elemen masyarakat dan instansi terkait menjadi kunci utama dalam penanganan karhutla di Lampung.
"Kita harus melakukan langkah pencegahan sejak dini agar kebakaran tidak meluas ke wilayah lain," tambahnya.
Hingga kini, tim gabungan masih berjibaku di lapangan untuk memadamkan kobaran api di TNWK serta mengintensifkan pembasahan lahan gambut agar titik api tidak kembali menyala.