LAMPUNG — Nickel Industries, perusahaan asosiasi United Tractors, tak main-main dalam ekspansi bisnis nikel. Dalam sehari, perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Australia itu mengumumkan akuisisi saham di dua proyek smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) di Morowali, Sulawesi Tengah.
Aksi pertama, NIC membeli 17,5% saham PT Teluk Metal Industry (TMI) senilai US$ 169 juta atau setara Rp 3,03 triliun. Dana akuisisi berasal dari kas internal dan opsi pembiayaan utang dari Shanghai Decent, pemegang saham terbesar NIC.
Kedua, NIC mengakuisisi 36% saham PT Chengsheng New Energy (CNE) dengan nilai tersirat US$ 241,6 juta (Rp 4,33 triliun). Bedanya, transaksi ini dilakukan lewat mekanisme pertukaran saham (share swap) sehingga tidak menguras kas perusahaan.
Strategi Integrasi Tambang dan Smelter
Direktur Utama NIC Justin Werner mengatakan, integrasi antara kepemilikan tambang bijih nikel dengan fasilitas pengolahan hilir menjadi kunci utama. Menurut dia, skema pertukaran saham antara Proyek Sampala dan proyek HPAL CNE menghasilkan peningkatan valuasi aset hingga 5,4 kali lipat.
"Yang terpenting, skema pertukaran saham ini memungkinkan Nickel Industries terus bertumbuh dengan tetap menjaga disiplin keuangan tanpa memerlukan tambahan modal ekuitas dari luar," kata Justin dalam keterbukaan informasi di ASX, Jumat (26/6).
Proyek Sampala akan menjadi pemasok eksklusif bijih nikel bagi CNE dan TMI. Kedua fasilitas itu akan terhubung melalui jaringan pipa slurry dan pipa tailing, mirip sistem yang sudah berjalan antara Tambang Hengjaya dan proyek ENC.
Target Produksi 2027
Proyek TMI ditargetkan mencapai kapasitas penuh paling lambat pertengahan 2027. Setelah beroperasi penuh, proyek ini akan menyumbang produksi sekitar 6.775 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun untuk NIC.
Sementara itu, CNE dijadwalkan mulai komisioning pada pertengahan 2027 dengan kapasitas produksi terpasang 28.357 ton nikel MHP per tahun. Dari kapasitas tersebut, NIC akan mendapat porsi sekitar 10.208 ton nikel MHP per tahun.
Total, kedua investasi ini akan menambah produksi NIC hampir 17.000 ton nikel MHP per tahun. Seluruh biaya pembangunan CNE ditanggung PT Jaya Agung Investasi (JAYA) melalui pembiayaan eksternal maupun pinjaman pemegang saham, sehingga NIC tak perlu keluar belanja modal tambahan.
Investasi Ringan Modal, Dampak Besar
Justin menambahkan, investasi di CNE melengkapi investasi di TMI. Kedua transaksi memperkuat posisi NIC sebagai produsen nikel Kelas 1 untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik.
"Kami memperoleh eksposur ke bisnis hilir dengan model investasi yang ringan modal (capital-light), dengan biaya sekitar US$ 10.500 per ton melalui monetisasi sebagian kepemilikan di Proyek Sampala. Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan proyek-proyek HPAL lain di Indonesia," ujarnya.
Integrasi hulu-hilir ini juga memperkuat posisi Proyek Sampala dalam memperoleh alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Sebab, investasi pada fasilitas pemrosesan menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menetapkan kuota produksi pertambangan. Dengan portofolio yang kian lengkap, NIC kini berada di jalur cepat menuju puncak industri nikel nasional.