LAMPUNG — Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menyatakan pengiriman berkelanjutan ke Kanada membuktikan industri manufaktur nasional mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang kompetitif di pasar internasional. "Ekspor berkesinambungan ini menunjukkan kemampuan industri nasional dalam menghasilkan produk berdaya saing tinggi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional," kata Fajarini dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Beda dengan Ekspor Bahan Mentah Baja
Produk fabrikasi baja struktural yang dikirim TFE berbeda dari ekspor komoditas baja biasa. Barang ini telah melalui proses pengolahan, rekayasa teknik, dan fabrikasi lanjutan sehingga nilai jualnya lebih tinggi ketimbang bahan baku atau produk setengah jadi. Kemendag menilai pencapaian ini sejalan dengan agenda hilirisasi yang digenjot pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah domestik dan daya saing produk Indonesia di luar negeri.
Tren Positif Ekspor Baja Fabrikasi Lima Tahun Terakhir
Data Kemendag mencatat ekspor nonmigas Indonesia pada Januari–April 2026 mencapai USD87,74 miliar, naik 6,28 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar USD82,56 miliar. Khusus untuk besi dan baja, nilai ekspornya mencapai USD9,61 miliar pada empat bulan pertama tahun ini. Adapun untuk produk fabrikasi baja struktural, ekspornya tercatat USD39,68 juta pada periode yang sama. Fajarini menyebut komoditas ini mencatatkan pertumbuhan positif rata-rata 6,08 persen dalam lima tahun terakhir (2021–2025).
Transformasi Struktur Ekspor Nasional
Industri baja menjadi salah satu sektor yang mengalami pergeseran signifikan dalam struktur ekspor Indonesia. Jika sebelumnya ekspor didominasi bahan mentah dan produk setengah jadi, kini kontribusi produk hasil hilirisasi dan rekayasa industri terus meningkat. Sepanjang 2025, nilai ekspor besi dan baja Indonesia tercatat USD29,76 miliar dengan tren pertumbuhan rata-rata 5,61 persen dalam lima tahun terakhir.
Perkembangan ini dinilai penting karena menunjukkan kemampuan industri nasional naik kelas dari sekadar pemasok material menjadi produsen produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Produk fabrikasi baja umumnya digunakan dalam pembangunan fasilitas industri, konstruksi bangunan besar, proyek energi, hingga infrastruktur strategis.
Kemendag optimistis peluang ekspor produk fabrikasi baja masih terbuka lebar. PT TFE disebut menjadi contoh perusahaan nasional yang berhasil memanfaatkan permintaan global melalui pengembangan produk bernilai tambah dan perluasan pasar ke berbagai negara.