Gubernur Lampung Minta Lulusan Perguruan Tinggi Kawal Hilirisasi, 539 Wisudawan UBL Dilantik

Penulis: Nopriansyah Putra  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 15:47:01 WIB
Gubernur Lampung menghadiri wisuda ke-76 Universitas Bandar Lampung di Gedung Mahligai UBL Convention Hall.

BANDARLAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung menempatkan lulusan kampus sebagai ujung tombak pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi. Hilirisasi ubi kayu, kopi robusta, bioetanol, hingga unggas terintegrasi disebut butuh tenaga kerja terampil dan wirausahawan muda yang berani berinovasi.

Wisuda ke-76 Universitas Bandar Lampung digelar di Gedung Mahligai UBL Convention Hall. Sebanyak 539 wisudawan dilantik, terdiri dari 330 lulusan S1, 202 lulusan S2, dan 7 lulusan S3.

Hilirisasi Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Lampung

Gubernur Lampung menyebut hilirisasi sebagai jalan utama menjaga tren positif perekonomian daerah. Angka pertumbuhan 5,2 persen menempatkan Lampung di posisi kedua se-Pulau Sumatra.

“Lampung hari ini bergerak maju melalui hilirisasi. Kita mendorong pengolahan ubi kayu menjadi produk bernilai tinggi, pembangunan pabrik pengolahan kopi robusta, pengembangan ekosistem bioetanol, hingga hilirisasi unggas terintegrasi dari hulu ke hilir,” tegas Gubernur Lampung dalam sambutannya.

Menurut Gubernur, seluruh langkah strategis itu membutuhkan tenaga kerja terampil, profesional, adaptif, serta wirausahawan muda yang berani berinovasi.

9,5 Juta Jiwa dan Dominasi Gen Z Jadi Modal Demografi

Pemprov Lampung menyoroti komposisi penduduk yang mencapai 9,5 juta jiwa. Lebih dari 45 persen di antaranya masuk kelompok Gen Z dan Post Gen Z.

Kelompok usia muda itu dinilai sebagai aset dan kekuatan ekonomi yang sangat besar untuk mengawal masa depan daerah. Karena itu, keterlibatan generasi muda dan lulusan perguruan tinggi dalam roda perekonomian daerah terus didorong.

Peringatan LLDIKTI: Waspadai Sindrom Toga

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah II, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc., mengingatkan wisudawan agar tidak berhenti belajar setelah menyandang gelar. Ia menyebut risiko sindrom toga sebagai kondisi psikologis seseorang yang merasa sudah menguasai segalanya.

“Sindrom toga adalah kondisi psikologis di mana seseorang yang baru lulus merasa sudah menguasai segalanya sehingga berhenti untuk belajar. Jangan sampai hal itu terjadi. Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan setiap orang yang ditemui sebagai guru. Di awal karier, fokuslah untuk mengambil peran dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Iskhaq.

Kolaborasi Riset Terapan dan Pengabdian Masyarakat Dibuka

Pemprov Lampung menegaskan pintu kolaborasi terbuka lebar bagi akademisi dan perguruan tinggi, termasuk UBL. Ruang kerja sama mencakup riset terapan, pengabdian masyarakat, dan penguatan ekosistem kewirausahaan.

Pemprov juga memberi apresiasi atas visi UBL yang terus bertransformasi menuju World Class Entrepreneur University melalui penguatan Talent and Career Ecosystem. Kolaborasi itu diarahkan untuk mewujudkan Lampung Maju menuju Indonesia Emas.

Reporter: Nopriansyah Putra
Sumber: web.lintaslampung.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top