LAMPUNG — Pernyataan tegas Wirtz itu bukan sekadar jargon. Pemain Liverpool tersebut mengaku ingin menjadi motor permainan yang memberi contoh lewat aksi di lapangan, bukan hanya omongan. Jerman tergabung di Grup E bersama Ekuador, Curacao, dan Pantai Gading. Laga perdana mereka akan menjamu tim debutan Curacao di NRG Stadium, Houston, pada 14 Juni 2026.
Ambisi tinggi Wirtz lahir dari luka masa lalu. Jerman memang menjadi juara dunia pada 2014 di Brasil, tapi dua edisi berikutnya menjadi mimpi buruk. Di Rusia 2018 dan Qatar 2022, tim besutan Joachim Löw dan Hansi Flick sama-sama tersingkir di fase grup.
Kegagalan beruntun itu membuat skuad kali ini berada di bawah tekanan besar untuk membuktikan diri. Wirtz sadar betul situasi itu. Ia tak hanya ingin menang, tapi juga mengubah mentalitas tim.
“Jelas, saya ingin membawa kami melaju ke babak final dan kemudian merengkuh gelar juara,” kata Wirtz seperti dikutip dari situs resmi FIFA. “Namun, di atas segalanya, saya ingin memberikan contoh lewat cara saya bermain dan memacu semangat rekan-rekan setim.”
Ia menambahkan, “Saya berharap bisa membawa energi ke dalam tim, memberikan kontribusi krusial, dan membantu kami melangkah jauh.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Wirtz siap memikul tanggung jawab sebagai salah satu pemain kunci di usia mudanya.
Pertandingan melawan Curacao pada 14 Juni 2026 akan menjadi panggung pertama Wirtz di Piala Dunia. Curacao, yang tampil sebagai debutan, memang bukan lawan yang diunggulkan. Tapi justru di situlah bahaya mengintai: jangan sampai Jerman mengulang kesalahan meremehkan lawan seperti yang terjadi di 2018 dan 2022.
Setelah Curacao, Jerman masih harus menghadapi Ekuador yang solid dan Pantai Gading yang eksplosif. Lolos dari Grup E adalah harga mati. Jika berhasil, langkah Wirtz menuju final baru benar-benar dimulai. Tapi untuk sekarang, target pertama adalah membuktikan bahwa Jerman sudah bangkit dari keterpurukan.