Pembangunan pembatas dengan berbagai metode konstruksi yang disesuaikan kondisi tanah itu menjadi salah satu wujud nyata dari slogan “TNWK Adalah Kita”. Slogan itu dikenalkan dalam kunjungan kerja Deputi Bidang Dukungan Program Strategis Presiden Sekretariat Presiden Kementerian Sekretariat Negara RI, Marsekal Muda TNI Dedi Saprudin Samsudin, ke TNWK beberapa waktu lalu.
Pembatas 138 Km: Pertahanan Berlapis untuk Manusia dan Gajah
Brigadir Jenderal TNI Sriyanto, Ketua Tim Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra, menjelaskan bahwa pembatas ini menjadi prioritas utama untuk mengurangi konflik antara gajah liar dan penduduk. “Judul New Look Taman Nasional Way Kambas kami pilih untuk menandai sebuah perubahan, sebab sejak awal TNWK dan masyarakat seakan-akan terpisah,” ujarnya.
Pembatas sepanjang 138 km itu dibangun dengan teknik yang disesuaikan dengan karakteristik tanah di setiap titik. Langkah ini merupakan bagian dari sistem mitigasi modern yang disebut “pertahanan berlapis” — mengamankan baik kelestarian satwa kunci maupun keselamatan warga di sekitar kawasan.
Dulu Terpisah, Kini 'TNWK Adalah Kita'
Dalam kunjungan tersebut, Dedi Saprudin menegaskan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar Way Kambas tidak lagi diposisikan sebagai pihak di luar kawasan. “Keberhasilan konservasi tidak mungkin dicapai hanya oleh Balai Taman Nasional Way Kambas,” katanya. Kolaborasi lintas sektor — melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, perguruan tinggi, hingga komunitas lokal — menjadi kunci.
Kepala Balai TNWK, MHD. Zaidi, menambahkan bahwa konsep yang dibangun adalah “bahagia bersama”. “Semua orang diharapkan bisa merasa senang dan merasakan langsung manfaat keberadaannya,” ungkap Zaidi. Tagline 'TNWK Adalah Kita' merangkul seluruh masyarakat Lampung, karena taman nasional ini merupakan salah satu kebanggaan Provinsi Lampung.
Transparansi Anggaran dan Tata Kelola Pembangunan
Selain aspek konservasi, Dedi Saprudin juga menyoroti pentingnya tata kelola pembangunan di kawasan TNWK. Ia meminta setiap pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi yang ditetapkan agar output sesuai perencanaan. “Komitmen harus menjaga kualitas pekerjaan sesuai dengan spesifikasi yang sudah disampaikan,” kata Dedi.
Ia menekankan fungsi pengawasan yang optimal dengan melibatkan pemerintah daerah, Kementerian Kehutanan, dan seluruh pemangku kepentingan. Besarnya anggaran yang dikelola harus diimbangi tata kelola transparan dan akuntabel. Proses pengadaan barang dan jasa harus memiliki landasan hukum kuat agar seluruh pihak bekerja dengan kepastian dan terhindar dari persoalan administratif.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Melalui semangat kolaboratif ini, pemerintah berharap TNWK tidak hanya menjadi benteng terakhir pelestarian Gajah Sumatra. Lebih dari itu, taman nasional ini diharapkan menjadi simbol gotong royong lintas generasi. “Anak cucu kelak masih dapat menyaksikan Gajah Sumatra hidup di habitat alaminya, bukan hanya melalui buku atau dokumentasi,” ujar Dedi.
Revitalisasi TNWK kini mengusung konsep yang lebih terbuka dan menyatu dengan warga Lampung Timur dan sekitarnya. Program ini membangun kedekatan emosional antara kawasan konservasi dengan masyarakat — menjadikan Way Kambas bukan sekadar kawasan lindung, melainkan milik bersama yang dijaga dari generasi ke generasi.