LAMPUNG SELATAN — Tiga komoditas perkebunan prioritas, yakni kelapa hibrida, kakao unggul, dan kopi, akan menjadi proyek awal pengembangan di pusat riset bibit unggul nasional yang berlokasi di lahan PTPN I. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan pemerintah berkomitmen penuh untuk memperkuat sektor perkebunan dari hulu ke hilir.
Pembagian Peran Riset dan Lahan
Dalam skema kerja sama ini, setiap pemangku kepentingan memiliki tugas spesifik. Kementerian Pertanian bertanggung jawab menyiapkan dan mensertifikasi bibit unggul. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama perguruan tinggi menjalankan riset dan pengembangan teknologi. Sementara PTPN I menyediakan lahan untuk kegiatan riset, pemuliaan tanaman, uji budidaya, hingga pengembangan kebun induk bibit.
“PTPN I dipersiapkan menjadi pusat riset dan pengembangan bibit unggul perkebunan nasional. Hasilnya diharapkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Zulkifli Hasan di Lampung Selatan, Jumat.
Target: Bibit Unggul Adaptif Iklim dan Agrowisata Terpadu
Direktur Utama PTPN I (Persero), Abdul Rivai Ras, menegaskan hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium. “Kami berkomitmen memastikan hasil riset diimplementasikan menjadi bibit unggul yang mampu meningkatkan produktivitas perkebunan, memperkuat daya saing komoditas nasional, dan memberikan manfaat nyata bagi petani serta masyarakat,” ujarnya.
Selain fokus pada varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim, kawasan riset ini direncanakan berkembang menjadi agrowisata terpadu berbasis perkebunan dan pesisir. Sinergi dengan InJourney dan dukungan mitra perbankan disiapkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Tolok Ukur Keberhasilan: Implementasi di Lapangan
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kasan, menilai penandatanganan kerja sama ini baru langkah awal. Menurutnya, keberhasilan program akan diukur dari implementasi di lapangan dan kemampuan menghasilkan bibit unggul yang bisa dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Bagi PTPN I, kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi transformasi perusahaan yang menempatkan inovasi, digitalisasi, dan kemitraan sebagai penggerak utama penciptaan nilai tambah. PTPN I optimistis pusat riset di Lampung Selatan dapat menjadi rujukan nasional dalam pengembangan material tanam berkualitas, sekaligus mendukung daya saing perkebunan Indonesia di pasar global.