LAMPUNG — Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap usulan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Pernyataan itu disampaikan saat ia menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana, Bahasa Indonesia, dan Cita-cita Kebangsaan di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta, Senin (29/6).
"Saya mendukung usulan agar Sutan Takdir Alisjahbana dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa dan pengabdiannya yang luar biasa bagi pembentukan Indonesia modern," kata Fadli dalam forum tersebut.
Tiga Pilar Kebangsaan: Sejarah, Budaya, dan Bahasa
Menurut Fadli, kontribusi STA bagi bangsa tidak hanya terletak pada karya sastra, melainkan pada fondasi pemikiran yang ia bangun. Ia menyebut STA sebagai tokoh visioner yang meletakkan dasar pembangunan nasional melalui tiga pilar utama: sejarah, kebudayaan, dan bahasa.
"Tanpa sejarah sebuah bangsa kehilangan arah. Tanpa budaya bangsa kehilangan jati diri. Dan tanpa bahasa bangsa kehilangan kemampuan membangun masa depan bersama," ujar Fadli mengutip pemikiran STA.
Fadli menambahkan, gagasan STA tetap relevan di tengah disrupsi teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan artifisial (AI). Ia menekankan modernitas dan kebudayaan tidak boleh dipertentangkan, melainkan harus saling menguatkan. "Modernitas memberikan daya saing, sementara kebudayaan memberi arah dan identitas," katanya.
Dari Novel di Usia 21 Tahun hingga Pengakuan UNESCO
Salah satu pencapaian konkret STA yang disorot Fadli adalah perannya dalam memodernisasi bahasa Indonesia. Pada usia 21 tahun, STA menulis novel Tak Putus Dirundung Malang, yang membuktikan bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa sastra modern setara bahasa asing.
Perjuangan itu kini mencapai tonggak sejarah setelah bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa ke-10 yang diakui UNESCO pada 2024. Saat ini, jumlah penutur bahasa Indonesia mencapai lebih dari 300 juta orang di Asia Tenggara.
Fadli juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang dari perspektif Eropa-sentris menjadi Nusantara-sentris, sebagaimana digagas STA sejak dekade 1970-an. Menurut Fadli, Nusantara bukan kawasan pinggiran dunia, melainkan salah satu simpul penting peradaban global.
Pembangunan Kebudayaan Harus Melampaui Pelestarian
Menutup paparannya, Fadli menegaskan bahwa pembangunan kebudayaan tidak cukup hanya dengan melestarikan warisan masa lalu. Ia mendorong agar kebudayaan menjadi sumber inovasi, kreativitas, dan daya saing bangsa di masa depan.
Dukungan dari Menteri Kebudayaan ini menjadi sinyal politik penting dalam proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional untuk STA. Meski demikian, proses pemberian gelar masih harus melalui tahapan verifikasi dan sidang Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan yang berada di bawah Kementerian Sekretariat Negara.