LAMPUNG — Hariyanti (55), atau akrab disapa Yanti, memulai usahanya dari titik nadir. Sebelum beralih ke batok kelapa, ia sempat menjalankan bisnis makanan ringan yang kerap merugi karena produk tidak habis terjual dan harus diretur. "Yang latar belakangnya yaitu, pertama saya berpikir untuk berbisnis yang biarpun sekarang ini belum laku, tapi tidak basi," kata Yanti saat ditemui di kediamannya di Dusun Jaron, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Jumat (21/6/2026).
Ide dari Kancing Baju, Bisnis Berawal dari Nol
Percikan ide muncul saat Yanti melihat kancing bajunya yang berbahan batok kelapa. Di sekeliling rumahnya, limbah batok kelapa melimpah karena warung-warung membuangnya begitu saja. Berbekal pengamatan itu, Yanti dan suami mulai merekayasa alat produksi sendiri—alat yang hingga kini belum tersedia di pasaran, terutama untuk produk bermotif.
Produk perdana yang dibuat adalah kancing baju, mulai ukuran 1,3 hingga 5 sentimeter. Yanti menawarkannya langsung ke konveksi dan toko alat jahit. "Alat-alat itu juga belum dijual di toko-toko juga. Sampai sekarang pun juga belum sebenarnya kalau yang bermotif," ujarnya.
Pameran Gratis hingga Tembus Pasar Jamaika
Setelah mengurus legalitas usaha pada 2003, Yanti mulai mengikuti pameran dari Bantul Expo hingga Jakarta Expo. Dari situlah ia bertemu pembeli asal Jamaika yang memesan tas-tas bulat. Hubungan dagang itu bertahan hingga kini. "Buyer-nya itu dari Jamaica, kemudian dia order tas-tas bulat. Dan sampai sekarang juga masih, dari Jamaica itu," cerita Yanti.
Pemerintah turut membuka jalan. Yanti mengaku sering diikutsertakan dalam pameran gratis di Ambon, Batam, Bali, Malaysia, hingga Belanda. "Semuanya gratis dari partner kita, dari pemerintah," katanya. Usaha yang sempat terhantam gempa Jogja 2006 dan pandemi Covid-19 ini bangkit kembali lewat program pendampingan desain. Yanti Batok Craft bahkan pernah memenangkan juara dua lomba desain, yang memberinya pendampingan gratis selama tiga bulan tanpa biaya sepeser pun.
Produk Butuh Tiga Hari hingga Seminggu, Omzet Stabil
Tantangan terbesar adalah tekstur batok kelapa yang keras. Untuk satu produk, Yanti dan karyawannya membutuhkan waktu tiga hari hingga satu minggu. Kini, produknya telah berkembang dari kancing menjadi bros, gantungan kunci, hingga wall décor dengan desain yang terinspirasi dari pelanggan dan karyawan.
Hampir tanpa modal awal—karena batok kelapa saat itu mudah ditemukan dan murah—Yanti kini menikmati omzet Rp10 juta per bulan. Ia juga kerap menjadi tempat studi mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) hingga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).