BANDAR LAMPUNG — Nama Toko Tapis dipilih bukan tanpa alasan. Tapis, kain tradisional khas Lampung, dinilai merepresentasikan nilai ketekunan, kreativitas, dan kebanggaan masyarakat yang ingin diangkat melalui platform digital ini. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Setdaprov Lampung Liza Derni, menyebut marketplace ini sebagai etalase peradaban ekonomi lokal.
“Toko Tapis bukan sekadar platform perdagangan digital, tetapi juga etalase peradaban ekonomi lokal yang membawa identitas Lampung ke ruang yang lebih luas,” kata Liza membacakan sambutan Gubernur.
Produk Unggulan yang Masuk Etalase Digital
Platform ini tidak hanya menjual kain tapis. Beragam produk unggulan Lampung akan dipasarkan secara digital, mulai dari kerajinan, kuliner, kopi, hasil pertanian, produk olahan, fesyen, hingga karya ekonomi kreatif dari generasi muda. Pemerintah menargetkan marketplace ini menjadi wadah yang mempertemukan produsen lokal dengan konsumen secara lebih luas.
Bukan Sekadar Seremoni, Ada Target Pengadaan Pemerintah
Peluncuran Toko Tapis dilakukan Pemprov Lampung bersama BUMD PT Wahana Raharja (Perseroda) dan mitra platform digital MBizmarket. Direktur Utama PT Wahana Raharja, Asep Muzaki, mengatakan marketplace ini juga dirancang untuk mendukung efisiensi belanja pemerintah. “Keberadaan marketplace lokal tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi belanja pemerintah serta mendorong perputaran ekonomi agar lebih banyak memberikan manfaat bagi pelaku usaha dan masyarakat Lampung,” ujarnya.
Seluruh perangkat daerah, termasuk pejabat pengadaan barang dan jasa serta bendahara, menjadi calon pengguna utama platform ini. Sosialisasi penggunaan Toko Tapis langsung diberikan oleh Vice President MBizmarket Ade Kurniawan kepada perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD).
Transformasi Digital Bukan Lagi Pilihan
Gubernur menilai kehadiran Toko Tapis merupakan langkah strategis menjawab tantangan pelaku UMKM, terutama keterbatasan akses pasar, promosi, dan adaptasi sistem digital. “Transformasi digital saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. Daerah tidak boleh tertinggal dan harus mampu memastikan kemajuan teknologi menjadi alat untuk memperkuat ekonomi rakyat,” kata Liza membacakan sambutan Gubernur.
Dukungan Lintas Sektor untuk Keberlanjutan
Agar tidak berhenti sebagai seremoni, Pemprov Lampung meminta pengelolaan Toko Tapis dilakukan secara profesional. Sistem pembayaran yang aman, mekanisme transaksi yang jelas, layanan pengaduan responsif, dan pendampingan UMKM untuk meningkatkan kualitas produk serta literasi digital menjadi prasyarat utama. Pemerintah juga mendorong kolaborasi lintas sektor—perangkat daerah, BUMD, perbankan, perguruan tinggi, komunitas digital, dan swasta—untuk pengembangan marketplace ini melalui pelatihan, pembiayaan, hingga dukungan logistik.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PT Wahana Raharja dan MBizmarket sebagai mitra platform digital. Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Lampung Asrul Tristianto menyatakan bahwa peluncuran Toko Tapis merupakan bagian dari percepatan transformasi digital ekonomi daerah yang lebih modern, terintegrasi, dan mudah diakses.