LAMPUNG — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan persaingan ekonomi antarnegara besar disebut-sebut bisa mengganggu stabilitas pasokan energi global. Indonesia, menurut Yusri, tidak punya pilihan selain memperkuat fondasi ketahanan energinya dari sekarang.
Migas dan EBT Bukan Pilihan, Tapi Keharusan Berjalan Bareng
Yusri menolak pandangan yang menempatkan migas dan EBT sebagai dua hal yang saling menggantikan. Menurutnya, keduanya adalah instrumen utama yang harus berjalan beriringan untuk menjamin keamanan pasokan energi nasional.
"Sektor hulu migas masih memegang peran strategis dalam memenuhi kebutuhan energi nasional, sehingga peningkatan investasi, percepatan eksplorasi, pengembangan lapangan baru, serta optimalisasi produksi harus terus menjadi prioritas," kata Yusri dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6).
Cadangan Baru di Andaman: Peluang Besar yang Harus Dikejar
Yusri menyoroti temuan-temuan cadangan migas baru, termasuk di wilayah Andaman. Ia menilai hal ini membuktikan bahwa Indonesia masih memiliki potensi sumber daya yang besar untuk mendukung ketahanan energi jangka panjang.
Namun, ia mengingatkan bahwa temuan tersebut tidak akan berarti banyak jika tidak diikuti dengan percepatan pengembangan. "Harus segera berkontribusi terhadap produksi nasional," tegasnya.
Gas Bumi Jadi Jembatan, EBT Jadi Tujuan Akhir
Di sisi lain, pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) harus terus dipercepat. Yusri menilai gas bumi bisa berperan sebagai energi transisi yang menjembatani kebutuhan energi saat ini dengan target peningkatan bauran EBT di masa depan.
Dengan pendekatan kombinasi ini, Indonesia disebut bisa menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan komitmen terhadap pembangunan rendah karbon.
"Ketahanan energi nasional tidak dapat hanya mengandalkan satu sumber energi. Indonesia membutuhkan kombinasi yang seimbang antara peningkatan produksi migas dan percepatan pengembangan energi terbarukan agar mampu menghadapi berbagai risiko global yang semakin kompleks," ujar Yusri.
Ia menambahkan, jika sinergi ini dijalankan secara konsisten, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan energinya, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang.