Pencarian

Desain Rumah Subsidi di Bandar Lampung Tak Ramah Iklim, Warga Keluhkan Tagihan Listrik Membara hingga Rp350 Ribu per Bulan

Senin, 15 Juni 2026 • 23:34:01 WIB
Desain Rumah Subsidi di Bandar Lampung Tak Ramah Iklim, Warga Keluhkan Tagihan Listrik Membara hingga Rp350 Ribu per Bulan
Warga Bandar Lampung mengeluhkan tagihan listrik tinggi akibat desain rumah subsidi yang tidak ramah iklim tropis.

BANDAR LAMPUNG — Taufik Rohman (37) duduk tak jauh dari kipas angin yang terus berputar di ruang tamu rumahnya di Perumahan Sakura Residen, Kemiling, Bandar Lampung, siang itu. Udara sumuk membuatnya enggan bergerak jauh dari satu-satunya pendingin ruangan yang ia miliki. “Kalau cuaca panas, kipas hampir selalu hidup,” ujar ayah satu anak itu setelah menyeruput air es.

Saban bulan, Taufik mengeluarkan biaya listrik sekitar Rp250 ribu. Ia sudah berupaya meredam panas dengan meninggikan plafon hingga 3,5 meter, mengecat dinding putih, dan memakai genteng tanah liat. Namun, lahan rumah seluas 72 meter persegi dan lingkungan perumahan yang padat membuat udara alami sulit bergerak. “Jarak antar rumah sangat rapat dan berdempetan, kawasan terasa sumpek,” katanya.

Ventilasi Minim, Panas Terperangkap di Dalam Rumah

Nasib serupa dialami Andre Jhurian (52), ASN Pemprov Lampung yang tinggal di Villa Cendana Residence, Kedaton, Bandar Lampung. Rumah tipe 36/72 yang ia tempati selama enam tahun hanya memiliki tiga jendela tanpa ventilasi sama sekali. “Udara panas lebih mudah terperangkap di dalam rumah, terutama saat cuaca terik,” ujarnya.

Andre mengaku token listriknya mencapai Rp200 ribu per bulan. Ia mengandalkan dua kipas angin untuk meredakan hawa pengap di ruang tengah dan kamar depan. Meski sudah mengganti lantai keramik dengan granit yang lebih sejuk, sirkulasi udara tetap buruk. “Desain rumah subsidi saat ini belum sepenuhnya cocok dengan iklim tropis Indonesia,” kritiknya.

Atap Metal dan Rangka Baja Ringan Memperparah Suhu Ruangan

Syahrial, penghuni Perumahan Griya Putri Annisa, Gedung Harapan, Lampung Selatan, bahkan harus menyalakan AC setiap malam hingga pagi hari. “Yang paling terasa membuat rumah panas itu atapnya. Bahannya genteng metal polos dengan rangka baja ringan. Kalau siang panas sekali,” keluhnya.

Rumah subsidi yang ia tempati memiliki plafon 3,6 meter dan dinding putih, namun tetap gerah saat terik. Syahrial mengeluarkan Rp300 ribu hingga Rp350 ribu per bulan untuk listrik, dengan konsumsi terbesar dari AC dan kipas angin. Ia sempat meminta tambahan satu jendela saat membeli rumah dengan biaya tambahan di awal kredit, namun kini memiliki tiga jendela tetap tidak optimal.

“Udara masuk susah, keluar juga susah. Jadi panas terperangkap di dalam rumah,” ujarnya. Kondisi diperparah setelah teras direnovasi sehingga tidak ada lagi ruang terbuka yang memungkinkan aliran udara silang (cross ventilation).

Apa Solusi untuk Hunian Tropis yang Lebih Sejuk?

Ketiga penghuni rumah subsidi di Bandar Lampung dan Lampung Selatan sepakat bahwa standar desain rumah murah perlu dievaluasi. Material atap, jumlah dan posisi ventilasi, serta tata letak antarbangunan menjadi faktor krusial yang luput dari perencanaan. Selagi belum ada perubahan regulasi, warga seperti Taufik, Andre, dan Syahrial harus terus membayar mahal—bukan hanya untuk listrik, tetapi juga untuk kenyamanan tinggal di rumah sendiri.

Bagikan
Sumber: voxlampung.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks