BANDARLAMPUNG — Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan II OJK Lampung Indah Puspitasari menyampaikan angka tersebut di Bandarlampung, Jumat. Menurut dia, besaran kredit yang mengalir ke Lampung menunjukkan dana yang disalurkan perbankan ke daerah itu relatif besar.
Dari total Rp119,29 triliun, kredit produktif tercatat Rp77,82 triliun. Kredit jenis ini mencakup modal kerja dan investasi, bukan kredit konsumtif.
OJK merinci, sektor ekonomi unggulan seperti pertanian, kehutanan, perikanan, dan peternakan baru menyerap 12,7 persen dari total kredit. Sisanya, 87,3 persen, tersebar ke sektor rumah tangga, industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi.
Rasio kredit terhadap PDRB Lampung berada di angka 22,6 persen. Bagi OJK, posisi itu masih menyisakan ruang untuk ditingkatkan.
"Dapat dikatakan total kredit dan kredit produktif Lampung tumbuh cukup baik, namun masih perlu ditingkatkan. Kemudian sebagai sektor penopang pertumbuhan ekonomi daerah, pembiayaan sektor pertanian sebagai sektor unggul daerah masih perlu diperluas," kata Indah.
OJK menyiapkan sejumlah langkah agar penyaluran kredit lebih merata. Prioritas pertama, memperbanyak usaha yang siap dan mampu mengakses pembiayaan.
Kedua, memperluas pembiayaan sektor unggulan melalui ekosistem usaha. Ketiga, memperluas akses keuangan berbasis potensi dan kebutuhan wilayah.
"Kami akan berupaya mengarahkan pertumbuhan sektor jasa keuangan dapat mendorong atau menggerakkan ekonomi di daerah," ujar Indah.
Dengan pertumbuhan kredit 7,63 persen, OJK Lampung menargetkan sektor jasa keuangan tidak sekadar tumbuh, tetapi ikut menggerakkan aktivitas ekonomi warga. Perluasan pembiayaan ke sektor pertanian menjadi pekerjaan rumah yang paling menonjol dari catatan Agustus 2026.