LAMPUNG — JPMorgan Chase & Co. menghentikan prediksi dasar harga minyak dunia untuk pertama kalinya, langkah langka yang menandai menyerahnya model analisis Wall Street di tengah perang AS-Israel melawan Iran. Keputusan bank terbesar AS itu diambil setelah yield Surat Utang Negara AS tenor 10 tahun menyentuh level psikologis 5%, memicu kecemasan baru atas stabilitas sistem keuangan global.
Dalam catatan riset resmi yang dikutip Bloomberg dan Reuters, tim analis JPMorgan menyatakan ketidakpastian geopolitik dan manuver mendadak Presiden AS Donald Trump membuat model pasar minyak mereka tak lagi berguna. Ini menjadi kali pertama raksasa Wall Street tersebut gagal memetakan arah harga komoditas paling krusial di dunia.
Selama bertahun-tahun, analis pasar meyakini ada "garis merah" yang tidak akan dilanggar pemerintahan Trump, seperti menjaga harga minyak di bawah USD100 per barel atau bensin di bawah USD5 per galon. Asumsi itu kini ambruk.
Trump justru terus meningkatkan retorika perang dan mengancam akan "mengumpulkan dan memusnahkan" (annihilate) pemerintah Iran. Tanpa kejelasan arah penyelesaian konflik, JPMorgan menilai tidak ada variabel yang bisa dijadikan pijakan untuk membangun skenario dasar.
"Kami sama sekali tidak tahu bagaimana cara memodelkan akhir dari konflik ini (endgame)," tulis tim analis JPMorgan dalam catatan risetnya.
JPMorgan juga mengakui sejumlah proyeksi ekstrem mereka sebelumnya tidak terwujud. Lonjakan harga minyak hingga USD150 per barel yang sempat diperhitungkan tidak terjadi karena munculnya fenomena demand destruction — penurunan permintaan akibat harga yang terlalu mahal.
Fenomena itu membuat pasar minyak bergerak di luar pola yang biasa dibaca model kuantitatif. Ketika konsumen dan industri mengurangi konsumsi lebih cepat dari perkiraan, tekanan harga justru mengendur meski risiko geopolitik meningkat.
Dampak konflik menjalar cepat ke pasar obligasi AS. Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara AS tenor 10 tahun menyentuh angka psikologis 5%, memicu kecemasan tinggi di Wall Street dan Washington terkait stabilitas sistem keuangan global.
Level 5% pada yield US Treasury merupakan ambang yang secara historis memicu tekanan pada pasar ekuitas global. Biaya pinjaman yang lebih mahal menekan valuasi saham, terutama emiten teknologi dan perusahaan dengan utang besar.
Bagi investor Indonesia, kombinasi yield US Treasury tinggi dan harga minyak yang sulit diprediksi berpotensi memperkuat dolar AS terhadap rupiah. Kondisi ini biasanya diikuti arus keluar modal asing dari pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia.
Keputusan JPMorgan menyetop prediksi dasar bukan sekadar catatan riset. Ini sinyal bahwa lembaga keuangan paling berpengaruh di dunia pun kehilangan kemampuan membaca arah pasar di tengah ketegangan geopolitik yang memanjang tanpa ujung.